Rabu, 07 Agustus 2013

20-22 April 2013 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 1)

Sabtu, 20 April 2013

Jejak sepatu gunung masih terlihat jelas di jalan setapak ini. Aroma khas pohon pinus yang berderet rapi, terhirup masuk melalui lubang hidung. Suhu yang sejuk tak mampu manghalau aliran peluh yang mulai bercucuran membasahi wajah. Angin sepoi berhembus diantara dedaunan, namun cuaca begitu cerah. Beban yang tergantung di pundak menambah keletihan yang nampak di wajah kami. Nafas terengah-engah seiring langkah kaki yang menapak. Ini bukanlah suatu adegan penyiksaan fisik, tetapi kami akan menapak bumi ini untuk berziarah di sebuah gunung eksotis tepat di Kab.Gowa, Sulawesi Selatan...tak begitu tinggi, tetapi dialah “Gunung Mulut Tuhan” yang lebih dikenal dengan nama Gunung Bawakaraeng..berketinggian 2883 Mdpl.
At starting point..hutan pinus Lembanna

Gaya dulu... Taken by: Fajar
Matahari beranjak ke barat saat kami tiba di sebuah tempat yang dinamakan Pos 2 oleh pendaki gunung ini. Suara riak dari mata air menyatu dengan keheningan hutan. Tiada syukur yang terkira ketika kami membasuh lembut wajah kami dengan air pegunungan. Setangkup air jernih itu pun masuk membasahi kerongkonganku. Fajar, seorang kawan perjalananku sedang asyik membersihkan tanah yang menempel di alas kakinya. Namun diantara kami berempat, tak ada yang mampu menandingi kotornya alas kakiku. Jaguar Paw, sepatu hiking yang baru terbeli beberapa bulan lalu kini nampak kotor dengan tempelan tanah. Namanya kuambil dari nama seorang pemeran lelaki tangguh di sebuah film buatan luar negeri yang bercerita tentang suku maya di daratan amerika sana. Tapak Jaguar, yah..nama yang gagah.
Pos 2 Bawakaraeng
Di sudut lain tempat ini, 2 orang kawan perjalananku yang lain, Sam dan Aldi sedang memasak untuk pengganjal perut kami. Tujuan kami Pos 5 tak begitu jauh pun dengan medan yang landai. Kami memutuskan hanya menikmati seduhan kopi hitam pekat dan mie instan. Pukul 16.00 kami kembali melanjutkan perjalanan menembus hutan rimba. Benar-benar fisikku sudah tidak kuat lagi. Kaki ini sudah lelah menapak, terkadang saya berhalusinasi sehingga kami sering beristirahat sejenak untuk memfokuskan pikiran dan menenggak air dari veldpless hijau yang tergantung di ranselku. “Sedikit lagi sampai..sedikit lagi”, begitu kata Sam bersemangat.
Pos 3 Bawakaraeng

Pos 4 Bawakaraeng
***

Semilir angin menyibak rambut panjangku saat ikatannya kubuka. Angin bertiup kencang dan rona senja muncul di langit yang mulai meredup menyilaukan mata. Gulungan awan yang nampak seperti ombak di laut seakan menunggu untuk diseberangi. Hamparan tanah dengan bekas batang pohon yang habis terbakar, mengerikan tetapi begitu eksotis, inilah Pos 5. Seekor anjing berbulu putih sedang berlarian. Entah, sepertinya dia sedang mencari sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Sudah ada tenda pendaki lain yang berdiri di sini. Kulepaskan sepatu yang sedari tadi membungkus kakiku. Seketika dinginnya hawa pegunungan merasuk ke sendi tulang kaki. Terasa kaku dan menusuk hingga menjalar naik ke sekujur tubuh. Lelah..tetapi inilah perjalanan yang menyenangkan. Syukur ucapku kami bisa menjejakkan kaki di Pos 5 dengan selamat. Tujuan kami hari ini tercapai juga.

Malam ini kami akan makan bersama tetangga camp. Menu yang membuatku sangat merindukan rumah..tersaji nasi putih, sambal goreng tempe, dan ikan asin yang dipanaskan di api unggun agar matang. Kalian teman camp yang sangat menyenangkan. Kami pun berbagi cerita ditemani kehangatan teh dan api unggun yang masih membara. Sesekali gelak tawa berpadu dengan hembusan angin yang kencang. Ya, sampai saya pun bisa mendengarkan suara tiupan angin. Malam semakin larut, namun saya tidak sanggup menahan dingin dan bergegas masuk kedalam tenda. Suhu dingin yang menusuk tulang mencapai puncaknya saat menjelang subuh. Aldi menarik rapat sarung tidurnya.  Menggigil adalah hal yang harus kami rasakan. Lutut kami bergetar... Tuhan, terima kasih hawa dingin ini..kami bisa merasakan hidup di hutan..dengan damai.
Fajar dan sunset Pos 5


20-22 April 2013 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 2)

Minggu, 21 April 2013

Pukul 06.00 sinar matahari mengetuk kelopak mata kami. Tersadar hari sudah berada di hari minggu pagi, segera air pegunungan menyentuh kulit kami untuk bersuci. Sebagai seorang muslim, kami tetap menjalankan perintahNya untuk melaksanakan shalat fardhu. Cuaca di tempat ini sangat panas. Tanpa pohon yang melindungi tentu matahari langsung menerpa bumi. Pendaki di tenda sebelah sudah lebih dulu bangun. Mereka akan berangkat lebih awal menuju puncak gunung.
“Ikuut..,” ujarku kepada Sam dan Fajar yang ingin menuju ke sumber air.  Letaknya masih berada di sekitar Pos 5, namun kita harus berjalan agak menurun untuk mencapainya. Sebuah mata air dengan aliran air yang tidak begitu deras. Namun bening..bening seperti embun pagi.
“Lalu, siapa yang akan memasak air untuk sarapan kita?,” tanya mereka.
Mataku segera melirik Aldi yang masih terbungkus sleeping bag. Aldi terpaksa harus bangun untuk menyiapkan sarapan. Kasihan....padahal sepertinya dia masih lelah setelah kemarin terus membawa carrier di pundaknya. Carrier yang berisi tenda dan beberapa peralatan tim kami. Ya, kami harus segera bergegas melanjutkan perjalanan. Pos 10 menanti kami hari ini.
Pos 5 Bawakaraeng
Sarapan pagi ini terhidang, susu yang tadinya hangat 10 menit kemudian menjadi susu dingin seperti baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Kami segera menghabiskan sarapan. Pukul 08.00 selesai berkemas, kami berpamitan kepada teman camp yang belum berangkat untuk melanjutkan perjalanan kami, lalu pamit kepada Pos 5 yang begitu eksotis, kepada gulungan awan yang masih bersembunyi malu tercerai berai, dan menitipkan harapan kepada langit yang begitu cerah pagi ini. Berempat kami kembali berbaris bagai semut. Pemandangan luas yang terlihat diantara Pos 5 dan Pos 6 sungguh membuai mata. Kami menatap pemandangan yang tersaji di hadapan kami, hamparan langit biru yang cerah dengan titik-titik kota dan sungai besar. Kami tidak bisa berlama-lama dengan waktu yang ada. Target kami adalah beristirahat sejenak di Pos 7, tempat dimana terdapat percabangan jalur menuju Lembah Ramma’ di kaki gunung dan di pos itu kembali akan membuai pandangan mata dengan pemandangan hamparan kaki gunung sejauh mata memandang.
Pemandangan antara Pos 5 dan Pos 6

Mari ngeteh di Pos 7 :)
Ki-ka: Aldi, Nita, Sam
Seduhan teh hangat tersaji di Pos 7, kawan-kawanku yang membuatnya. Walaupun mereka laki-laki, tetapi begitu gesit dalam urusan memasak makanan sekalipun. Dalam perjalanan menuju Pos 8, kami terbagi 2 kelompok. Fajar dan Sam berada di barisan depan sedangkan saya dan Aldi di belakang. Fisikku kembali lemah, tidak mampu berjalan cepat. Ranselku kembali dibawa oleh Sam. Tubuhku yang kurus memanggul ransel sendiri saja rasanya sulit. Beberapa batang pohon besar yang melintang di jalur pendakian cukup menyulitkanku, karena kaki yang sudah lemah melangkah hanya kuangkat perlahan seperti orang yang malas berjalan. Di tengah perjalanan, terpaksa kedua lututku dibalut dengan perban. Lutut kananku akhir-akhir ini mudah sakit. Sepertinya membutuhkan sedikit bantuan untuk perjalanan jarak jauh. Kata Aldi, lututku dibalut untuk membantunya kuat bergerak.
“Saya lelah sekali..,” ucapku pada Aldi yang berada di belakangku.
“Ayo istirahat lagi, duduk dan luruskan kakimu,” Aldi memberi perintah dan menyodorkan veldpless kepadaku.
“Masih jauh?,” tanyaku penasaran. Kuraih veldpless hijau dan meneguk air teh dingin yang berada di dalamnya. Jalur yang kami lalui kali ini begitu berat. Jalur panjang dihiasi dengan tekstur tanah yang menanjak lalu menurun, menanjak lagi lalu landai kemudian menurun. Ya, beberapa pendaki mengakui inilah jalur yang paling melelahkan.
“Sedikit lagi Pos 8 didepan,” Aldi mencoba memberi harapan. Mataku kembali berbinar mendengar kata sedikit. Ah, di pikiranku mungkin sedikit itu 15 menit lagi atau sedikit itu bisa 5 menit lagi. Saya berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan walau dengan nafas yang tidak lagi teratur dan jantung bekerja keras untuk memompa darah. Kabut mulai memeluk kami dan kaki ini semakin berat untuk dilangkahkan.

***
Hari ini Gunung Bawakaraeng sedang ramai, banyak tenda yang memenuhi lokasi camp di Pos 8 dan Pos 9. Ada pendaki yang sudah berkemas, ada juga yang baru akan menuju puncak keesokan harinya. Rupanya ada kegiatan Kartini Petualang hari ini. Pesertanya adalah sekumpulan pendaki perempuan dan mereka berdandan seperti pahlawan nasional RA.Kartini di puncak gunung. Mereka perempuan yang hebat, sayang kami tidak sempat bertemu dengan mereka di puncak gunung.
Sam in action! :)
Sumber air Pos 8
***

Edelweiss yang masih malu-malu bermekaran menjadi hiasan indah di sepanjang jalur Pos 9 menuju Pos 10. Akhirnya aku bisa melihat langsung bunga simbol keabadian ini, bunga yang begitu dipuja oleh para pencinta alam. Bunga yang diharamkan untuk dipetik, namun masih ada saja jemari jahil yang menarik mereka dari habitatnya. Tuhan, ciptaanmu memang begitu indah.
Saat berjalan, tiba-tiba aku dan Aldi yang sedang berjalan diguyur hujan. Mulanya gerimis, langkah kaki kami percepat. Namun hujan makin deras. Pos 10 masih beberapa ratus meter di depan mata.
“Kita berteduh dulu,” seruku pada Aldi. Kami hanya berteduh di bawah sebuah tumbuhan yang tidak begitu besar.
“Kita pakai ponco,” ujar Aldi.
“Ponco cuma satu. Kalau dipakai sendiri kemungkinan menganggu gerakan kakiku berjalan, karena ponconya besar. Kamu saja yang pakai,” kataku. “Pinjam slayermu saja, saya pakai di kepala.”
Aldi mengeluarkan slayer dari ring bagnya. Slayer itu cukup besar, kuikatkan di kepalaku agar tidak basah karena hujan. Padahal hujan begitu deras, sama saja membasahi kepalaku.
“Ponconya dipakai untuk lindungi carrier saja. Karena siapa tahu covernya tembus,” Aldi mengeluarkan ponco dan melapisi carrier yang dia bawa.
“Oke, kita lanjut jalan,” kulangkahkan kembali kaki ini. Semakin lemah. Aldi berkata Pos 10 sudah tidak begitu jauh.
Seratus meter dari lokasi camp, hujan mulai reda. Sebuah plang penanda yang terbuat dari selembar aluminium tipis bertuliskan Pos 10 yang dipaku pada batang pohon. Di sana sudah ada Fajar dan Sam yang lebih dahulu tiba. Baju yang ku kenakan ternyata sangat basah. Dinginnya memeluk badan. Beruntung di Pos 10 ini angin tidak bertiup kencang seperti di Pos 5, karena ada pohon-pohon yang cukup melindungi. Setelah tenda didirikan, Aldi beranjak menuju puncak gunung untuk menikmati sunset. Ya, hujan sudah reda dan siluet matahari kembali muncul.
Plang tanda Pos 10

Tranggulasi dan sunset
***

Pukul 18.00 suasana camp kami begitu sepi. Hanya ada tenda kami yang berdiri sendiri disana. Suara burung bersahutan untuk terbang kembali ke sarangnya. Makan malam sudah tersaji. Sebenarnya ini bukanlah makan malam karena kami memakannya saat waktu belum menunjukkan malam hari. Saya tidak berselera makan kali ini, hanya ingin segera berbaring di dalam tenda karena lelah berjalan tadi. Namun lambungku riuh berbunyi karena sedari tadi pagi belum terisi nasi. Saya dan Fajar juga mulai terserang masuk angin sedari kemarin malam di Pos 5 hingga di Pos 10 ini. Beberapa sendok suapan nasi berhasil masuk ke mulutku. Dan beberapa tegukan teh manis menambah isi lambungku.
Malam mulai menggelayut, pekat ditemani sinar bulan dan kerlipan bintang. Hawa dingin di camp ini tidak begitu menusuk seperti di Pos 5 kemarin. Tenda kami benar-benar sendiri di camp ini. Tak ada pendaki lain yang mendirikan tenda di sini. Hanya ada suara kami berempat memecah keheningan camp ini.
“Ada camp pendaki lain di sebelah kanan sana, sepertinya dua tenda. Pendaki yang kita temui kemarin di Pos 5. Saya bertemu mereka tadi sore di puncak,” kata Aldi. Mataku langsung mencari arah camp yang dimaksud Aldi, namun tidak terlihat. Banyak pohon dan rerimbunan tumbuhan. Camp di sebelah kanan memang tidak terlihat dari camp kami.
“Kita tidak sendiri? Ah, pantas saja tadi samar kedengaran suara orang lain. Pikirku darimana asalnya,” kataku.
“Iya Nita, kita kan camp di sebelah kiri. Pikirku teman-temanku yang di Pos 5 kemarin akan camp bersama kita di sini, tapi sepertinya mereka camp di bawah, di Pos 9,” tambah Aldi.

              Saya, Fajar, dan Sam memasuki tenda. Tinggalah Aldi sendiri di luar tenda, dia menikmati radiasi hangat dari api unggun dan seduhan kopi hitam. Malam ini cerah seperti malam yang kami lalui sebelumnya. Hawa dingin tidak begitu menusuk. Sesekali terdengar suara plang tanda Pos 10 yang berbunyi tertiup angin. Mungkin sengaja dipaku agak longgar ataukah sudah termakan usia sehingga pakunya mulai longgar. Suaranya terdengar sedikit mistis menurutku. Di camp ini hanya 4 orang pendaki yang tidur di sebuah tenda di suatu malam. Sepi.. Semua berharap agar segera tidur untuk menyambut sunrise esok subuh di puncak Mulut Tuhan. Api unggun pun dipadamkan. Tak ada suara lain.. Hanya itu..suara plang tanda Pos 10.

20-22 April 2103 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 3)

Senin, 22 April 2013
            
             “Fajar, bangun! Ayo kita sholat subuh..sudah pukul 5,” seruku pada Fajar yang masih bersembunyi di balik sleeping bag. Dia menggeliat meraih handphone untuk melihat waktu.
            “Ha..sudah pukul 5? Oke,” yang kubangunkan terbangun dengan mimik wajah yang masih ingin tidur. Saya juga masih ingin tidur. Namun jam di handphone sudah menunjukkan pukul 05.00 subuh. Saya, Fajar, dan Sam ingin menjadi pemburu sunrise puncak gunung.
            Pukul 06.00 kami bertiga bergegas naik ke puncak gunung. Puncak gunung dan camp kami bisa ditempuh dalam 10-15 menit. Aldi masih tertidur di tenda. Sulit membangunkannya dan kami sepakat untuk melihat sunrise tanpa dia. Saat kami melewati batas vegetasi, angin bertiup kencang. Siluet matahari pagi mulai nampak. Menyembul malu-malu seperti seorang gadis dengan pipi merona merah. Cantik sekali.
            Di puncak inilah berdiri sebuah tugu yang lazim disebut tranggulasi, titik penanda puncak tertinggi suatu gunung.
      “Yeeiyy!!!”, teriakku senang. “Kita rombongan pertama yang mencapai puncak pagi ini. Wuuuww...sunrisee!!!.”
Berdiri di atas tranggulasi Bawakaraeng

            Setelah kami tiba di tranggulasi ini, pendaki -yang berada di camp sebelah kanan-, juga mulai naik. Sunrise di arah timur membuat kami senang bagai mendapat sesuatu yang begitu kami impikan. Kami begitu terkagum melihat pemandangan pagi di puncak gunung.
          “Terima kasih Yaa Allah....,” ucapku pelan. “Ibuuuuu saya di siniiiiii.....!!,” saya berteriak kencang ke arah di mana kota terletak, seakan ibu yang berada di Makassar bisa mendengar teriakanku dari puncak gunung ini.
            Tiap sudut pemandangan ini kami abadikan melalui kamera handphone. Lalu kami menikmati sedikit biskuit dan air yang kami bawa dari camp. Ucapan syukur dan bahagia tidak henti kuucapkan dalam hati. Seperti kata Slank, Terlalu Manis Untuk Dilupakan......
Pagi di puncak.. Lautan awan mulai terlihat
Ki-ka: Fajar, Nita, Sam
Selamat Hari Bumi 22 April.. dari sini... dari Puncak Bawakaraeng... :)

*selesai*

Kamis, 27 September 2012

Tridente Expedition Goes To 1.353 Mdpl (2-3 Juni 2012)

Saya sudah mengenal namanya sedari saya sadar hidup di dunia...
Namun saya tidak pernah tau dimana letak persisnya...
Hingga suatu hari saya ingin menemui “wujud” aslinya...
Sekedar ingin menyapa, dan berkata inilah “rumahku!”...


Siang itu.. 2 Juni 2012, saya, Ose, dan Odang berkemas-kemas untuk menanjak di ketinggian 1.353 mdpl.. Cuaca yang begitu terik tidak menyurutkan niat ini untuk menghirup kembali kabut pegunungan.

Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah Ose di daerah Mandai (Poros Makassar-Maros), menuju Desa Tompobulu, Kec.Balocci, Kab.Pangkep. Desa terakhir di kaki Gunung Bulusaraung.Menempuh perjalanan dengan sengatan matahari dan canda gurau sedikit melupakan kejenuhan saat kami menyusuri jalanan ini. Melewati jalan poros Maros-Pangkep, kami berbelok kanan menuju bekas pabrik semen Tonasa 1. Terruuusss......hingga mentok di sebuah tanda Kawasan Wisata Alam Bulusaraung, yah..Gunung ini masih termasuk Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kami beristirahat sejenak. Sebentar lagi kami akan berjalan menyusuri jalan menanjak dan kanan adalah hutan lebat, lalu di kiri tersembunyi jurang.
Berpose dulu, cuy! Hehehee..

Menyusuri jalan menanjak ini agak membuat saya deg-degan. Kemiringannya membuat jantung berdegup kencang. Namun, syukur kami berhasil melewati jalanan tanjakan dan berkelok itu. Dan kini terganti jalan datar yang paaanjaaannng dan berkelok di tengah hutan. Betul! Kami berjalan di tengah hutan! Bayangkan saja ada jalanan berbeton yang membelah hutan lebat ini! (sayang sekali, tidak sempat poto jalanannya).
Dua jam perjalanan kami tempuh dari Mandai menggunakan sepeda motor. Sampailah kami di Desa Tompubulu. Desa asri yang tersembunyi jauh di belahan hutan lebat. Kami istirahat sejenak dan menitipkan motor di rumah Tata Rasyid.

GO!! Pukul 14.30 kami beranjak. Menyusuri pematang sawah dan kebun kacang milik warga. Kami singgah sejenak di pancuran air dekat sawah untuk mengisi kekosongan perut. Pukul 15.00, setelah tenaga kembali penuh, kami akhirnya berangkat menyusuri hutan dan beberapa pos untuk mencapai lokasi camp di Pos 9.
Sepanjang perjalanan, saya dibuat takjub oleh tanjakan antara Pos 2-3-4..saya harus terus menanjak..dengan kemiringan yang lumayan membuat nafas serasa berada di ujung hembusan. Namun, sepanjang pos 1 sampai 5, terdapat sebuah shelter sederhana. Tetapi, shelternya tidak terawat, bahkan ada yang sudah rubuh.
Partner saya... \(^o^)/
ki-ka (Ose dan Odang)

Capeeekkk!!! Sumpaaahh...

Ini loh shelter yang rubuh!

Menuju Pos 5, jalanan mulai landai..betis ini sudah sesak nafas karena menyusuri tanjakan tadi. Hari sudah mulai gelap ketika kami mencapai Pos 8 yang biasa disebut Jendela Angin. Mengapa? Pos 8 adalah ruang terbuka yang berada di bibir jurang. Kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian beberapa ribu kaki. Anginnya bertiup kencang.  Wah, seandainya bisa paralayang disana. Hahahaha...Bersama pendaki lain yang kami temui di hutan, kami beristirahat sejenak di Pos 8 ini. Sudah pukul 17.00 dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 9 untuk camp.
Teman baarruuu.... :)

Ini yang memanjakan mata di Pos 8

Tiba di Pos 9 ini, terdapat sebuah areal camp yang cukup luas untuk menampung beberapa tenda pendaki. Seusai mendirikan tenda dan merapikan barang bawaan, kami segera mencari sumber mata air, yang.....aallaamaaakkk!! Jauh turun ke bawaaahh!! Letaknya masih berada di Pos 9, namun kita harus berjalan turun untuk mencapai mata air tersebut. Ya, baeklah...saya memerlukan air untuk membasuh wajah dan kaki yang sudah kotor berbalut tanah, keringat, dan debu.
Camp Pos 9

Magrib telah datang, saya segera menunaikan shalat Magrib. Inilah pengalaman pertama shalat di ketinggian, di alam terbuka, dingin, berteman suara binatang...damai sekali rasanya.
With Odang! :)
Bercelana pendek di malam hari, rasanya frreessshh!! hahahaa..

Seusai shalat Isya, kami makan malam dan dilanjutkan bermain domi, lalu ngopi bersama Adrian (teman saya yang akhirnya bertemu di camp ini lagi), dan Ose bercerita tentang pengalamannya saat mendaki Gunung Gandang Dewata pada tahun 2000 lalu. Kami semua tertawa terbahak mendengar cerita Ose. Lucu sekali! Mulai berganti mobil 41 kali PP Makassar-Mamuju, desa yang gelap gulita, babi berkeliaran, aliran sungai yang deras, kakek tua yang menyeramkan, peta dari koran, pemilihan kepala desa, hingga batu keramik sisa robohan tranggulasi asli Gandang Dewata yang membawa “berkah”.. J It’s gonna be awesome! Tepuk tangan buat Ose! Wakakakak.... Hingga kami mengantuk mendengarnya, cerita Ose layaknya sebuah dongeng..Hhe..

Ahad, 3 Juni..Pukul 07.00, BANGUUNN PAAGGII!!! Yyeeaahh!! Niat ngeliat sunrise di puncak 1.353 mdpl akhirnya PUPUS... -____- oke! Mari sarapan! Camp masih sepi.. sepertinya di camp, saya yang pertama keluar tenda, lalu mengeluarkan suara berisik untuk menyikat gigi..hingga teman di tenda lain terbangun. Segelas susu hangat dan roti tawar yang juga berlapis susu menjadi pengganjal lambung pagi ini.. J
Sarapann!! Horee!!


Assiik sekali Ose.. hha..

Pukul 07.15 kami bersiap untuk segera GO PUNCAK!! HOOREE!! SUMMIT ATTACK cuy!
Yassalaamm..ternyata buat muncak, saya harus menanjak lagi.. L doh! Keringat! Butuh waktu sekitar 15 menit untuk memegang tranggulasi 1.353 mdpl!
Hihihi...muka lelaahh!! Ayo, semangat! Dikit lagi puncak!

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ahad, 3 Juni 2012, pukul 07.30 Wita....AKHIRNYA! SUMMIT ATTACK!! Odang dengan antusias mendokumentasikan video detik-detik saat saya akan memegang tranggulasi! How Awesome! Odang hebat! HAHAHAHA....
Ehhemm....pose yang menurut beberapa teman, adalah pose paling menarik di petualangan kali ini.. :)
Padahal saya hanya sedang sibuk mencari sinyal untuk membalas beberapa SMS penting yg masuk ke hapeku..
Thankie Odang, sudah mengabadikan moment ini!

Senang, bangga (halaahh..), dan terharu (ngek!) bercampur kyk es teler.... Ibu! Liat! Saya berhasil naik di puncak gunung! Saya tidak cengeng! Walaupun, phobia ketinggian terkadang masih menghantui tapi semangat ini tidak pernah redup! Saya tau, saya lelah menanjak lalu menurun di dalam hutan, tetapi keindahan di puncak ini membalas semua rasa lelah..heheheee...
Sejauh mata memandang, hanya ada kedamaian! Wish you were here Mom! Saya tidak hanya tau tinggal di Jalan yang bernama Gunung Bulusaraung, tapi saya berhasil menemui "wujudnya", Bu! 

Walaupun hanya gunung “rendah”, tapi muncak di Bulusaraung adalah pengalaman pertama saya muncak di gunung. Awal yang mantap! :D Thankiee so muchaa buat Tridente Expedition...Ose dan Odang..kalian benarr benaarr partner yang hebat.. J Hihihiii.....
Partner terhebat...

Ada Adrian juga di puncak.. :)





see you soon Bulusaraung!



Selasa, 18 September 2012

Episode 3 Rammang-rammang with CouchSurfing Makassar


     Saya menghela nafas ketika seorang teman mengabarkan dia akan berwisata di Dusun Rammang-rammang pada esok Ahad 9 September 2012. Ffiiuuhh...kali ketiga menginjakkan kakiku di dusun itu. Yang episode pertama bersama Rimba (trekking tersesat..hahahaaa..), yang episode kedua bersama Odang, hanya sekedar mengambil gambar keindahan alam disana.
Tak ada kesibukan lain, saya mengiyakan untuk berangkat wisata bersama teman saya itu yang bernama Iyyan. Kami sepakat bertemu pukul 8.00. Dan oh..sy terlambat 15 menit dari jadwal itu.. heheheee... :p
      Pukul 8.30, kami segera GO Rammang-rammang. Ternyata, ini adalah semacam kegiatan touring bersama komunitas CouchSurfing Makassar (komunitas travelling gitu). WAW! Pesertanya 50-an orang! Saya sedikit kaget dengan jumlahnya, maklum saja selama outdoor, saya tidak pernah membawa “pasukan” sebanyak itu..paling banyak juga 6 orang.
      Di rombongan itu, terdapat 2 orang turis mancanegara yang entah saya tidak tau mereka berasal dari negeri mana? -____- Kami berbaur dengan latar belakang berbeda. Beruntung saya tidak susah bergaul dengan mereka.. J
        Kami menggunakan kendaraan pribadi menuju TKP. Pukul 10.00 kami tiba dan segera memulai trekking di sawah yang saaanggaaaatt kering!! 1 kata > TANDUS!
Panas mulai membakar kulit.. Di sana kami menyusuri hutan batu. Yah, baru pertama saya menyusuri “hutan” ini... bagus juga...CANTIK! Seperti berada di dalam hutan beneran, diapit batuan karst yang menjulang tinggi. Gua-gua kecil dan mata air juga menghiasi hutan ini. Sayang, bila bukan musim kemarau, hutan ini sulit dilalui. Dikarenakan berada di belakang sawah warga, dan bawahnya digenangi oleh air. Jadi, sebaiknya datang saat musim kemarau begini.
     SATU hal yang paaaliiinggg menjengkelkan adalah handphone saya yang tiba tiba HANG! OH..GOD... kameraa..manaa kameerraa..... NGGAK BAWA! -__- Okesip...ga ada banyak poto..ga cukup 5 kutip.
Di kawasan hutan tersebut, bila tak hapal jalur kita akan sedikit tersesat. Beruntung saat itu kami membawa guide yang merupakan anak seorang warga disana. Kami memanjat tebing, lalu menuruninya, menyusuri gua kecil, dan makan siang di “ballroom” Rammang-rammang! J
Wah, kegiatan touring yang seruu..namun sayang, hanya sebentar..pukul 13.00 kami sudah berlalu untuk tujuan selanjutnya > Taman Nasional Leang-leang.
Oke, Rammang-rammang! See you next time! With me and my partners!! :D

CouchSurfing Makassar Goes To Rammang-rammang

Rabu, 12 September 2012

#Mission Adventurous 1 > Episode 1 Rammang-rammang with Rimba


Berpetualang ke alam bebas untuk pertama kali adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tujuan kali ini adalah melihat gugusan hutan karst yang terletak di Dusun Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kab.Maros. Saya segera packing untuk menyiapkan keperluan selama di alam nanti. Saya akan bertualang berdua bersama partner baru saya yang bernama Rimba. Namun saya lebih akrab memanggilnya Kakak Guru, karena dia lebih berpengalaman berpetualang di alam bebas ketimbang saya.
29 Oktober 2011, pukul 10.00, kami start dari Makassar menggunakan kendaraan roda dua. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di dusun tersebut. Kami sempat bingung mencarinya. Karena hanya bermodal informasi melalui internet dan omongan teman-teman yang pernah kesana. Menurut informasi, hutan batu di kawasan Rammang-rammang sangat indah, namun ada jalur menyusuri sungai untuk sampai kesana.
Untuk mencari desa tersebut, di jalan poros Makassar-Maros kita berbelok menuju pabrik Semen Bosowa. Kami bertanya kepada warga sekitar bila ingin menyusuri sungai, “Harganya sekitar 150 ribu.”, kata seorang Ibu yang kami tanya. Harga yang mahal menurut kami, karena saat itu kami hanya pergi berdua. Jadi kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak mencapai kawasan hutan batu tersebut. Tak jauh dari jalan masuk menuju pabrik semen, di sebelah kiri tepatnya di samping Gardu Induk Maros, terdapat sebuah jalan kecil. Kami menyusuri jalan tersebut. Di kanan dan kiri terdapat hamparan sawah dan gugusan hutan karst yang begitu indah. Namun, langit tampak mendung.

Mari menyusuri Dusun Rammang-Rammang!! :D


Sudah pukul 12.00 dan kami masih meraba jalan. Lah, dimana sungainya???, pikirku heran. Kami menemui jalan buntu, di depan kami terhampar sawah dan memutuskan menitipkan motor di salah satu rumah warga. Hanya ada 4 rumah dan sebuah surau dalam satu kawasan tersebut. Dan tiap rumah berjarak ratusan kilometer.

Memandang sebuah surau...

Baru menjejakkan kaki beberapa langkah, kami sudah diguyur hujan. Segera kami berlindung di sebuah surau sambil menyusun rencana selanjutnya. Dan kami memutuskan untuk bertanya pada seorang warga yang rumahnya tak jauh dari tempat kami berpijak. Setelah hujan reda, matahari bersinar menyengat kulit, kami harus melewati pematang sawah untuk berjalan. Kami bertanya jalur pada tiap warga yang lewat, namun semua petunjuknya hanya membawa kami pada sebuah jalan dusun yang sepi, kami menyusuri jalan setapak selama 2 jam dengan diguyur hujan lalu kembali terik dan kami menyadari bahwa kami tersesat!
Segera kami berbalik kembali ke starting point. Saya mencoba menghubungi teman yang pernah ke hutan batu itu, namun sinyal seluler juga tak menjangkau seluruh wilayah desa itu. Rimba sibuk dengan kamera digitalnya. Dia memotret tiap moment yang kami lalui. Menurut teman yang berhasil saya hubungi, kami harus mencapai Gua Telapak Tangan. Ha? Gua dimana itu? Kami menyusun ulang rencana dengan berjalan menyusuri arah yang berlawanan. Kali ini saya benar-benar lelah, perut keroncongan dan kaki sudah pegal untuk melangkah. Namun semangat yang menggebu mengalahkan segala lelah. Jalur kali ini kami harus bermain lumpur. Untuk menyusuri pematang, terlalu jauh. Kami hanya berjalan memotong sawah warga yang tidak ditanami padi. Namun kondisinya sangat becek dan berlumpur. Langit kembali mendung dan kami berada di tengah sawah..yah, saya sedikit was-was menghadapi keadaan seperti ini, maklum saja ini adalah hal pertama dalam hidup saya. Dan kami memutuskan bertanya sekali lagi kepada warga yang sedang bekerja di samping rumahnya, “Pak, gua telapak tangan itu dimana?”, tanyaku penasaran. “Wah, masih arah sana Dek! Masih jauh!”, tutur seorang bapak sambil menunjuk ke arah sana sana saaanaaaa yg hanya terlihat sawah dan tebing karst. “Fiiiuuhh..”, hela nafasku terdengar. SAYA LELAAAHH..... -________-
Rimba memutuskan untuk mengakhiri petualangan kali ini. Kami mengucap terima kasih kepada warga tersebut dan segera mengambil sepeda motor yang terparkir. Belum seberapa jauh meninggalkan parkiran, hujan lalu kembali menyapa kami. Niat untuk berhenti sejenak memasak makan siang, menjadi tertunda. Kami beristirahat sejenak di depan sebuah warung kecil di mulut desa, melihat tiap tetesan bulir hujan yang menyapa bumi. Ah, Rammang-rammang...Kau masih membuat saya penasaran....... Janji, saya akan menyapamu kembali... Tunggu saja! :D
Ketika hujan reda, kami tak langsung kembali ke Makassar, tetapi kami ingin menikmati alam tebing Lopi-lopi! \(^o^)/ yeahh!! Kami akan makan siang dan istirahat di bawah tebingg!!
-bersambung....-

Selasa, 31 Juli 2012

Lembah Ramma 1819212

Delapan Belas Februari...
Sabtu itu, sekitar 2 jam menyusuri poros Makassar-Gowa, tibalah saya di sebuah desa di kaki Gunung Bawakaraeng, Kab.Gowa, tepat pukul 13.00 WITA. Namun, saya sempat kehilangan jejak Fajar dan Abel, yang mengambil jalur terdepan namun tak tahu arah menuju desa. Sinyal seluler sudah tidak mampu menjangkau langit desa ini. Beruntung 15 menit kemudian, Sam berhasil membawa kedua rekan kami yang tersesat kembali ke desa. Malam nanti, kami berencana akan menghabiskan saturday nite di Lembah Ramma, yang sesumbar menurut kawan-kawan penikmat alam adalah sebuah lembah cantik yang dipenuhi padang rumput dan sebuah sungai kecil yang tersembunyi di balik kokohnya kaki Gunung Bawakaraeng. Tim kami berjumlah enam orang. Empat orang laki-laki adalah teman kuliah saya dan seorang dari kami, Odang berbeda kampus.
Setelah beristirahat di salah satu rumah warga Desa Lembanna yang bernama Tata Supu, kami pamit untuk menuju tujuan sejati kami. Sudah pukul 14.00, satukan tekad! Kami berenam beriringan menyusuri kebun sayur warga desa hingga menembus deretan hutan pinus yang tertata rapi. Jalan cukup menanjak, saya, Abel dan Ignas merasa lelah. Sesekali kami beristirahat sekedar menikmati tetesan air dari botol air minum. Jalur menuju lembah ini sama dengan jalur pendakian menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Sesampai di POS 1, rasa haru menghampiri. Padahal kami baru mencapai starting point sebenarnya. Di lokasi ini terdapat percabangan menuju POS 2 Gunung Bawakaraeng dan menuju Lembah Ramma. Kami mengambil jalan kanan untuk menuju Lembah Ramma.
Menghirup nafas di POS 1
Kali ini Odang bertindak sebagai leader, diikuti oleh saya, Fajar, Abel, Ignas dan Sam sebagai sweeper. Berjalan beriringan menembus hutan dan sesekali kami mendapat percikan air dari langit. Kedinginan lalu kepanasan, bercampur di sore itu. Berenam kami tak luput dari gigitan binatang penghisap darah, pacet yaitu sejenis lintah namun berukuran lebih kecil. Tiap mendapat aliran air sungai kecil, kami beristirahat sejenak sekedar membersihkan bekas gigitan pacet yang menempel di tubuh kami. Lumayan, bekas gigitan pacet nampak berbekas di badan kami.
Dua jam setengah perjalanan menembus hutan yang membuat kami kelelahan, terbayar dengan tercapainya Puncak Tallung. Sebuah puncak yang merupakan salah satu titik punggungan Gunung Bawakaraeng. Terdapat sebuah batu besar, sebuah pohon cemara kecil dan in memoriam seorang pendaki yang wafat. Sayang, saat itu kabut menyelimuti hingga hanya samar terlihat indahnya Lembah Ramma di bawah sana.
Angin bertiup kencang, rembesan air dari langit turun kembali mengguyur badan kami. Saya melepas ponco yang digunakan daritadi. Ponco ini kebesaran dan sedikit akan mengganggu perjalanan bila dipakai. “Kita turun lewat sini.”, ujar Odang sambil mengarahkan menuju sebuah jalan curam. Wah, kami harus menuruni punggungan! Hujan turun dengan derasnya membuat kami berenam basah kuyup. Jalan curam dan licin, kedinginan, beban berat yang kami pikul, membuat kami lebih berhati-hati. Saya dan Odang menjadi yang terakhir menuruni punggungan itu. Namun, sesampai di bawah, ternyata kami berenam salah jalur! Area camp masih di sebelah kiri dengan jarak beberapa meter. Sedang yang di depan kami adalah kubangan lumpur. Segera kami mencari jalan pintas untuk mencapai area camp. Beruntung kami dengan cepat menemukan jalur. Lalu kami mendirikan tenda di lokasi camp. Ada pendaki lain yang sudah mendirikan tendanya. Hujan masih turun dengan derasnya. Kami mencapai Lembah Ramma sudah pukul 17.00.
Saya terduduk mengenakan ponco di sebuah gundukan bukit sebelah lokasi tenda. Kedinginan dan lapar membuat kaki saya sulit bergerak. Kelima rekan saya membantu mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, kami menghangatkan diri di dalam tenda. Hujan perlahan mulai reda. Secangkir kopi hangat dan roti bercampur meises menjadi teman di sore yang dingin itu. Langit bertransformasi menuju kegelapan malam.
Ketika malam tiba, Ignas segera memasak untuk keperluan makan malam kami. Sam dan Fajar membantu Ignas memasak. Menunya adalah nasi, mie kuah bercampur telur, dan telur rebus. Sesekali kami keluar tenda menikmati udara malam di alam bebas. Hujan telah berhenti, dan tergantikan oleh taburan bintang. “Yang kayak gini nggak ada di kota! Di kota cuma ada gedung tinggi!”, kataku sambil memandang takjub kilauan benda bercahaya di langit malam. Tetapi langit cerah tak bertahan lama, segera terganti oleh rintik hujan. Suara aliran air sungai menemani tidur kami di pukul 23.00 waktu Lembah Ramma.
Mejeng dalem tenda nunggu dinnerr!! \(^o^)/
Gemericik hujan yang sedari tengah malam tadi, masih menyambut hingga pagi ini. Saya menggeliat dari balik sleeping bag hitam. Langit sudah terang, sudah pukul 06.00. Kawan yang lain masih tertidur. Odang bergerak-gerak dari balik sleeping bagnya. Rupanya dia ikut terbangun. Saya sedikit bermalas-malasan, hujan lalu reda sejam kemudian. Saya beranjak keluar menuju sungai di samping tenda kami. Seketika saya takjub dengan apa yang saya lihat. Sebuah lembah cantik yang berumput hijau dan dialiri sebuah sungai berair jernih dikelilingi oleh Gunung Bawakaraeng. Eksotis sekali! Di Lembah Ramma ini terdapat sebuah rumah milik Tata Mandong, sang juru kunci Lembah Ramma. Beliau sudah lama mengabdikan diri menjaga kelestarian alam Bawakaraeng.
Camp di Lembah Ramma
Sarapan kami pagi ini adalah kopi, susu, dan beberapa bungkus cemilan. Target kembali menuju desa adalah pukul 12.00. Saya dan Odang sibuk memotret keadaan sekeliling, tak ingin melewatkan secuil pun keindahan lembah ini. Camp para pendaki lain berdiri di dekat tenda kami. Mendadak saya dan Odang menjadi model dan fotografer bermodal kamera ponsel. Ternyata, longsoran baru saja terjadi saat malam tadi. Bekasnya masih terlihat jelas. Pendaki lain menatap ke arah longsoran. Saya lalu melihat ke arah sebuah pohon kecil nun jauh di atas sana. “Itu Tallung!”, tunjukku ke arah satu titik  punggungan. Ternyata Puncak Tallung terlihat sangat jauh dari lembah ini. Bagaimana kaki kecil kami menapaki jalanan yang curam di tengah hujan yang begitu deras kemarin sore? Menakjubkan bagi seorang pemula seperti saya!
Motret depan tenda
Abel dan Fajar menikmati guyuran air sungai sebelum kami beranjak pulang. Yah, pukul 12.00 kami meninggalkan Lembah Ramma. Kaki kecil kami kembali menapaki jalan menuju Puncak Tallung. Lelah tersirat di wajah saya saat mencapai Puncak Tallung. Gembira menyelimuti. Kami mengabadikan gambar di tempat itu, lalu sejenak berdoa di sebuah in memoriam..
Ini puncak Talung!! (ki-ka: Sam, Odang, Nyta, Fajar, Ignas, Abel)
Perjalanan pulang menuju desa tidak terasa berat dibandingkan saat berangkat. Kami memerlukan waktu 2 jam untuk kembali ke rumah Tata Supu. Rasa lelah tergurat di wajah kami, namun tersamarkan senyuman bahagia kami. Yah..kami berhasil mencapai Lembah Ramma. Kami adalah partner bertualang. Dan suatu saat kami akan kembali menyapa Lembah Ramma! Aamiin! Di atas motor, saya membalikkan badan, melihat pelangi di langit Lembanna, lalu tersenyum. See you soon Lembanna!
Pelangi Lembanna