Kamis, 27 September 2012

Tridente Expedition Goes To 1.353 Mdpl (2-3 Juni 2012)

Saya sudah mengenal namanya sedari saya sadar hidup di dunia...
Namun saya tidak pernah tau dimana letak persisnya...
Hingga suatu hari saya ingin menemui “wujud” aslinya...
Sekedar ingin menyapa, dan berkata inilah “rumahku!”...


Siang itu.. 2 Juni 2012, saya, Ose, dan Odang berkemas-kemas untuk menanjak di ketinggian 1.353 mdpl.. Cuaca yang begitu terik tidak menyurutkan niat ini untuk menghirup kembali kabut pegunungan.

Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah Ose di daerah Mandai (Poros Makassar-Maros), menuju Desa Tompobulu, Kec.Balocci, Kab.Pangkep. Desa terakhir di kaki Gunung Bulusaraung.Menempuh perjalanan dengan sengatan matahari dan canda gurau sedikit melupakan kejenuhan saat kami menyusuri jalanan ini. Melewati jalan poros Maros-Pangkep, kami berbelok kanan menuju bekas pabrik semen Tonasa 1. Terruuusss......hingga mentok di sebuah tanda Kawasan Wisata Alam Bulusaraung, yah..Gunung ini masih termasuk Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kami beristirahat sejenak. Sebentar lagi kami akan berjalan menyusuri jalan menanjak dan kanan adalah hutan lebat, lalu di kiri tersembunyi jurang.
Berpose dulu, cuy! Hehehee..

Menyusuri jalan menanjak ini agak membuat saya deg-degan. Kemiringannya membuat jantung berdegup kencang. Namun, syukur kami berhasil melewati jalanan tanjakan dan berkelok itu. Dan kini terganti jalan datar yang paaanjaaannng dan berkelok di tengah hutan. Betul! Kami berjalan di tengah hutan! Bayangkan saja ada jalanan berbeton yang membelah hutan lebat ini! (sayang sekali, tidak sempat poto jalanannya).
Dua jam perjalanan kami tempuh dari Mandai menggunakan sepeda motor. Sampailah kami di Desa Tompubulu. Desa asri yang tersembunyi jauh di belahan hutan lebat. Kami istirahat sejenak dan menitipkan motor di rumah Tata Rasyid.

GO!! Pukul 14.30 kami beranjak. Menyusuri pematang sawah dan kebun kacang milik warga. Kami singgah sejenak di pancuran air dekat sawah untuk mengisi kekosongan perut. Pukul 15.00, setelah tenaga kembali penuh, kami akhirnya berangkat menyusuri hutan dan beberapa pos untuk mencapai lokasi camp di Pos 9.
Sepanjang perjalanan, saya dibuat takjub oleh tanjakan antara Pos 2-3-4..saya harus terus menanjak..dengan kemiringan yang lumayan membuat nafas serasa berada di ujung hembusan. Namun, sepanjang pos 1 sampai 5, terdapat sebuah shelter sederhana. Tetapi, shelternya tidak terawat, bahkan ada yang sudah rubuh.
Partner saya... \(^o^)/
ki-ka (Ose dan Odang)

Capeeekkk!!! Sumpaaahh...

Ini loh shelter yang rubuh!

Menuju Pos 5, jalanan mulai landai..betis ini sudah sesak nafas karena menyusuri tanjakan tadi. Hari sudah mulai gelap ketika kami mencapai Pos 8 yang biasa disebut Jendela Angin. Mengapa? Pos 8 adalah ruang terbuka yang berada di bibir jurang. Kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian beberapa ribu kaki. Anginnya bertiup kencang.  Wah, seandainya bisa paralayang disana. Hahahaha...Bersama pendaki lain yang kami temui di hutan, kami beristirahat sejenak di Pos 8 ini. Sudah pukul 17.00 dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 9 untuk camp.
Teman baarruuu.... :)

Ini yang memanjakan mata di Pos 8

Tiba di Pos 9 ini, terdapat sebuah areal camp yang cukup luas untuk menampung beberapa tenda pendaki. Seusai mendirikan tenda dan merapikan barang bawaan, kami segera mencari sumber mata air, yang.....aallaamaaakkk!! Jauh turun ke bawaaahh!! Letaknya masih berada di Pos 9, namun kita harus berjalan turun untuk mencapai mata air tersebut. Ya, baeklah...saya memerlukan air untuk membasuh wajah dan kaki yang sudah kotor berbalut tanah, keringat, dan debu.
Camp Pos 9

Magrib telah datang, saya segera menunaikan shalat Magrib. Inilah pengalaman pertama shalat di ketinggian, di alam terbuka, dingin, berteman suara binatang...damai sekali rasanya.
With Odang! :)
Bercelana pendek di malam hari, rasanya frreessshh!! hahahaa..

Seusai shalat Isya, kami makan malam dan dilanjutkan bermain domi, lalu ngopi bersama Adrian (teman saya yang akhirnya bertemu di camp ini lagi), dan Ose bercerita tentang pengalamannya saat mendaki Gunung Gandang Dewata pada tahun 2000 lalu. Kami semua tertawa terbahak mendengar cerita Ose. Lucu sekali! Mulai berganti mobil 41 kali PP Makassar-Mamuju, desa yang gelap gulita, babi berkeliaran, aliran sungai yang deras, kakek tua yang menyeramkan, peta dari koran, pemilihan kepala desa, hingga batu keramik sisa robohan tranggulasi asli Gandang Dewata yang membawa “berkah”.. J It’s gonna be awesome! Tepuk tangan buat Ose! Wakakakak.... Hingga kami mengantuk mendengarnya, cerita Ose layaknya sebuah dongeng..Hhe..

Ahad, 3 Juni..Pukul 07.00, BANGUUNN PAAGGII!!! Yyeeaahh!! Niat ngeliat sunrise di puncak 1.353 mdpl akhirnya PUPUS... -____- oke! Mari sarapan! Camp masih sepi.. sepertinya di camp, saya yang pertama keluar tenda, lalu mengeluarkan suara berisik untuk menyikat gigi..hingga teman di tenda lain terbangun. Segelas susu hangat dan roti tawar yang juga berlapis susu menjadi pengganjal lambung pagi ini.. J
Sarapann!! Horee!!


Assiik sekali Ose.. hha..

Pukul 07.15 kami bersiap untuk segera GO PUNCAK!! HOOREE!! SUMMIT ATTACK cuy!
Yassalaamm..ternyata buat muncak, saya harus menanjak lagi.. L doh! Keringat! Butuh waktu sekitar 15 menit untuk memegang tranggulasi 1.353 mdpl!
Hihihi...muka lelaahh!! Ayo, semangat! Dikit lagi puncak!

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ahad, 3 Juni 2012, pukul 07.30 Wita....AKHIRNYA! SUMMIT ATTACK!! Odang dengan antusias mendokumentasikan video detik-detik saat saya akan memegang tranggulasi! How Awesome! Odang hebat! HAHAHAHA....
Ehhemm....pose yang menurut beberapa teman, adalah pose paling menarik di petualangan kali ini.. :)
Padahal saya hanya sedang sibuk mencari sinyal untuk membalas beberapa SMS penting yg masuk ke hapeku..
Thankie Odang, sudah mengabadikan moment ini!

Senang, bangga (halaahh..), dan terharu (ngek!) bercampur kyk es teler.... Ibu! Liat! Saya berhasil naik di puncak gunung! Saya tidak cengeng! Walaupun, phobia ketinggian terkadang masih menghantui tapi semangat ini tidak pernah redup! Saya tau, saya lelah menanjak lalu menurun di dalam hutan, tetapi keindahan di puncak ini membalas semua rasa lelah..heheheee...
Sejauh mata memandang, hanya ada kedamaian! Wish you were here Mom! Saya tidak hanya tau tinggal di Jalan yang bernama Gunung Bulusaraung, tapi saya berhasil menemui "wujudnya", Bu! 

Walaupun hanya gunung “rendah”, tapi muncak di Bulusaraung adalah pengalaman pertama saya muncak di gunung. Awal yang mantap! :D Thankiee so muchaa buat Tridente Expedition...Ose dan Odang..kalian benarr benaarr partner yang hebat.. J Hihihiii.....
Partner terhebat...

Ada Adrian juga di puncak.. :)





see you soon Bulusaraung!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar