Rabu, 12 September 2012

#Mission Adventurous 1 > Episode 1 Rammang-rammang with Rimba


Berpetualang ke alam bebas untuk pertama kali adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tujuan kali ini adalah melihat gugusan hutan karst yang terletak di Dusun Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kab.Maros. Saya segera packing untuk menyiapkan keperluan selama di alam nanti. Saya akan bertualang berdua bersama partner baru saya yang bernama Rimba. Namun saya lebih akrab memanggilnya Kakak Guru, karena dia lebih berpengalaman berpetualang di alam bebas ketimbang saya.
29 Oktober 2011, pukul 10.00, kami start dari Makassar menggunakan kendaraan roda dua. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di dusun tersebut. Kami sempat bingung mencarinya. Karena hanya bermodal informasi melalui internet dan omongan teman-teman yang pernah kesana. Menurut informasi, hutan batu di kawasan Rammang-rammang sangat indah, namun ada jalur menyusuri sungai untuk sampai kesana.
Untuk mencari desa tersebut, di jalan poros Makassar-Maros kita berbelok menuju pabrik Semen Bosowa. Kami bertanya kepada warga sekitar bila ingin menyusuri sungai, “Harganya sekitar 150 ribu.”, kata seorang Ibu yang kami tanya. Harga yang mahal menurut kami, karena saat itu kami hanya pergi berdua. Jadi kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak mencapai kawasan hutan batu tersebut. Tak jauh dari jalan masuk menuju pabrik semen, di sebelah kiri tepatnya di samping Gardu Induk Maros, terdapat sebuah jalan kecil. Kami menyusuri jalan tersebut. Di kanan dan kiri terdapat hamparan sawah dan gugusan hutan karst yang begitu indah. Namun, langit tampak mendung.

Mari menyusuri Dusun Rammang-Rammang!! :D


Sudah pukul 12.00 dan kami masih meraba jalan. Lah, dimana sungainya???, pikirku heran. Kami menemui jalan buntu, di depan kami terhampar sawah dan memutuskan menitipkan motor di salah satu rumah warga. Hanya ada 4 rumah dan sebuah surau dalam satu kawasan tersebut. Dan tiap rumah berjarak ratusan kilometer.

Memandang sebuah surau...

Baru menjejakkan kaki beberapa langkah, kami sudah diguyur hujan. Segera kami berlindung di sebuah surau sambil menyusun rencana selanjutnya. Dan kami memutuskan untuk bertanya pada seorang warga yang rumahnya tak jauh dari tempat kami berpijak. Setelah hujan reda, matahari bersinar menyengat kulit, kami harus melewati pematang sawah untuk berjalan. Kami bertanya jalur pada tiap warga yang lewat, namun semua petunjuknya hanya membawa kami pada sebuah jalan dusun yang sepi, kami menyusuri jalan setapak selama 2 jam dengan diguyur hujan lalu kembali terik dan kami menyadari bahwa kami tersesat!
Segera kami berbalik kembali ke starting point. Saya mencoba menghubungi teman yang pernah ke hutan batu itu, namun sinyal seluler juga tak menjangkau seluruh wilayah desa itu. Rimba sibuk dengan kamera digitalnya. Dia memotret tiap moment yang kami lalui. Menurut teman yang berhasil saya hubungi, kami harus mencapai Gua Telapak Tangan. Ha? Gua dimana itu? Kami menyusun ulang rencana dengan berjalan menyusuri arah yang berlawanan. Kali ini saya benar-benar lelah, perut keroncongan dan kaki sudah pegal untuk melangkah. Namun semangat yang menggebu mengalahkan segala lelah. Jalur kali ini kami harus bermain lumpur. Untuk menyusuri pematang, terlalu jauh. Kami hanya berjalan memotong sawah warga yang tidak ditanami padi. Namun kondisinya sangat becek dan berlumpur. Langit kembali mendung dan kami berada di tengah sawah..yah, saya sedikit was-was menghadapi keadaan seperti ini, maklum saja ini adalah hal pertama dalam hidup saya. Dan kami memutuskan bertanya sekali lagi kepada warga yang sedang bekerja di samping rumahnya, “Pak, gua telapak tangan itu dimana?”, tanyaku penasaran. “Wah, masih arah sana Dek! Masih jauh!”, tutur seorang bapak sambil menunjuk ke arah sana sana saaanaaaa yg hanya terlihat sawah dan tebing karst. “Fiiiuuhh..”, hela nafasku terdengar. SAYA LELAAAHH..... -________-
Rimba memutuskan untuk mengakhiri petualangan kali ini. Kami mengucap terima kasih kepada warga tersebut dan segera mengambil sepeda motor yang terparkir. Belum seberapa jauh meninggalkan parkiran, hujan lalu kembali menyapa kami. Niat untuk berhenti sejenak memasak makan siang, menjadi tertunda. Kami beristirahat sejenak di depan sebuah warung kecil di mulut desa, melihat tiap tetesan bulir hujan yang menyapa bumi. Ah, Rammang-rammang...Kau masih membuat saya penasaran....... Janji, saya akan menyapamu kembali... Tunggu saja! :D
Ketika hujan reda, kami tak langsung kembali ke Makassar, tetapi kami ingin menikmati alam tebing Lopi-lopi! \(^o^)/ yeahh!! Kami akan makan siang dan istirahat di bawah tebingg!!
-bersambung....-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar