Berpetualang ke alam bebas untuk
pertama kali adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tujuan kali ini adalah
melihat gugusan hutan karst yang terletak di Dusun Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kab.Maros.
Saya segera packing untuk menyiapkan keperluan selama di alam nanti. Saya akan
bertualang berdua bersama partner baru saya yang bernama Rimba. Namun saya
lebih akrab memanggilnya Kakak Guru, karena dia lebih berpengalaman
berpetualang di alam bebas ketimbang saya.
29 Oktober 2011, pukul 10.00, kami
start dari Makassar menggunakan kendaraan roda dua. Butuh waktu 2 jam untuk
sampai di dusun tersebut. Kami sempat bingung mencarinya. Karena hanya bermodal
informasi melalui internet dan omongan teman-teman yang pernah kesana. Menurut
informasi, hutan batu di kawasan Rammang-rammang sangat indah, namun ada jalur
menyusuri sungai untuk sampai kesana.
Untuk mencari desa tersebut, di jalan
poros Makassar-Maros kita berbelok menuju pabrik Semen Bosowa. Kami bertanya
kepada warga sekitar bila ingin menyusuri sungai, “Harganya sekitar 150 ribu.”,
kata seorang Ibu yang kami tanya. Harga yang mahal menurut kami, karena saat
itu kami hanya pergi berdua. Jadi kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak
mencapai kawasan hutan batu tersebut. Tak jauh dari jalan masuk menuju pabrik
semen, di sebelah kiri tepatnya di samping Gardu Induk Maros, terdapat sebuah
jalan kecil. Kami menyusuri jalan tersebut. Di kanan dan kiri terdapat hamparan
sawah dan gugusan hutan karst yang begitu indah. Namun, langit tampak mendung.
![]() |
Mari menyusuri Dusun Rammang-Rammang!! :D |
Sudah pukul 12.00 dan kami masih meraba
jalan. Lah, dimana sungainya???, pikirku heran. Kami menemui jalan buntu, di
depan kami terhampar sawah dan memutuskan menitipkan motor di salah satu rumah
warga. Hanya ada 4 rumah dan sebuah surau dalam satu kawasan tersebut. Dan tiap
rumah berjarak ratusan kilometer.
![]() |
Memandang sebuah surau... |
Baru menjejakkan kaki beberapa langkah, kami
sudah diguyur hujan. Segera kami berlindung di sebuah surau sambil menyusun
rencana selanjutnya. Dan kami memutuskan untuk bertanya pada seorang warga yang
rumahnya tak jauh dari tempat kami berpijak. Setelah hujan reda, matahari
bersinar menyengat kulit, kami harus melewati pematang sawah untuk berjalan.
Kami bertanya jalur pada tiap warga yang lewat, namun semua petunjuknya hanya
membawa kami pada sebuah jalan dusun yang sepi, kami menyusuri jalan setapak
selama 2 jam dengan diguyur hujan lalu kembali terik dan kami menyadari bahwa
kami tersesat!
Segera kami berbalik kembali ke
starting point. Saya mencoba menghubungi teman yang pernah ke hutan batu itu,
namun sinyal seluler juga tak menjangkau seluruh wilayah desa itu. Rimba sibuk
dengan kamera digitalnya. Dia memotret tiap moment yang kami lalui. Menurut
teman yang berhasil saya hubungi, kami harus mencapai Gua Telapak Tangan. Ha?
Gua dimana itu? Kami menyusun ulang rencana dengan berjalan menyusuri arah yang
berlawanan. Kali ini saya benar-benar lelah, perut keroncongan dan kaki sudah
pegal untuk melangkah. Namun semangat yang menggebu mengalahkan segala lelah.
Jalur kali ini kami harus bermain lumpur. Untuk menyusuri pematang, terlalu
jauh. Kami hanya berjalan memotong sawah warga yang tidak ditanami padi. Namun
kondisinya sangat becek dan berlumpur. Langit kembali mendung dan kami berada
di tengah sawah..yah, saya sedikit was-was menghadapi keadaan seperti ini,
maklum saja ini adalah hal pertama dalam hidup saya. Dan kami memutuskan
bertanya sekali lagi kepada warga yang sedang bekerja di samping rumahnya, “Pak,
gua telapak tangan itu dimana?”, tanyaku penasaran. “Wah, masih arah sana Dek!
Masih jauh!”, tutur seorang bapak sambil menunjuk ke arah sana sana saaanaaaa
yg hanya terlihat sawah dan tebing karst. “Fiiiuuhh..”, hela nafasku terdengar.
SAYA LELAAAHH..... -________-
Rimba memutuskan untuk mengakhiri
petualangan kali ini. Kami mengucap terima kasih kepada warga tersebut dan
segera mengambil sepeda motor yang terparkir. Belum seberapa jauh meninggalkan
parkiran, hujan lalu kembali menyapa kami. Niat untuk berhenti sejenak memasak
makan siang, menjadi tertunda. Kami beristirahat sejenak di depan sebuah warung
kecil di mulut desa, melihat tiap tetesan bulir hujan yang menyapa bumi. Ah,
Rammang-rammang...Kau masih membuat saya penasaran....... Janji, saya akan
menyapamu kembali... Tunggu saja! :D
Ketika hujan reda, kami tak langsung
kembali ke Makassar, tetapi kami ingin menikmati alam tebing Lopi-lopi! \(^o^)/
yeahh!! Kami akan makan siang dan istirahat di bawah tebingg!!
-bersambung....-
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar