Rabu, 07 Agustus 2013

20-22 April 2013 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 1)

Sabtu, 20 April 2013

Jejak sepatu gunung masih terlihat jelas di jalan setapak ini. Aroma khas pohon pinus yang berderet rapi, terhirup masuk melalui lubang hidung. Suhu yang sejuk tak mampu manghalau aliran peluh yang mulai bercucuran membasahi wajah. Angin sepoi berhembus diantara dedaunan, namun cuaca begitu cerah. Beban yang tergantung di pundak menambah keletihan yang nampak di wajah kami. Nafas terengah-engah seiring langkah kaki yang menapak. Ini bukanlah suatu adegan penyiksaan fisik, tetapi kami akan menapak bumi ini untuk berziarah di sebuah gunung eksotis tepat di Kab.Gowa, Sulawesi Selatan...tak begitu tinggi, tetapi dialah “Gunung Mulut Tuhan” yang lebih dikenal dengan nama Gunung Bawakaraeng..berketinggian 2883 Mdpl.
At starting point..hutan pinus Lembanna

Gaya dulu... Taken by: Fajar
Matahari beranjak ke barat saat kami tiba di sebuah tempat yang dinamakan Pos 2 oleh pendaki gunung ini. Suara riak dari mata air menyatu dengan keheningan hutan. Tiada syukur yang terkira ketika kami membasuh lembut wajah kami dengan air pegunungan. Setangkup air jernih itu pun masuk membasahi kerongkonganku. Fajar, seorang kawan perjalananku sedang asyik membersihkan tanah yang menempel di alas kakinya. Namun diantara kami berempat, tak ada yang mampu menandingi kotornya alas kakiku. Jaguar Paw, sepatu hiking yang baru terbeli beberapa bulan lalu kini nampak kotor dengan tempelan tanah. Namanya kuambil dari nama seorang pemeran lelaki tangguh di sebuah film buatan luar negeri yang bercerita tentang suku maya di daratan amerika sana. Tapak Jaguar, yah..nama yang gagah.
Pos 2 Bawakaraeng
Di sudut lain tempat ini, 2 orang kawan perjalananku yang lain, Sam dan Aldi sedang memasak untuk pengganjal perut kami. Tujuan kami Pos 5 tak begitu jauh pun dengan medan yang landai. Kami memutuskan hanya menikmati seduhan kopi hitam pekat dan mie instan. Pukul 16.00 kami kembali melanjutkan perjalanan menembus hutan rimba. Benar-benar fisikku sudah tidak kuat lagi. Kaki ini sudah lelah menapak, terkadang saya berhalusinasi sehingga kami sering beristirahat sejenak untuk memfokuskan pikiran dan menenggak air dari veldpless hijau yang tergantung di ranselku. “Sedikit lagi sampai..sedikit lagi”, begitu kata Sam bersemangat.
Pos 3 Bawakaraeng

Pos 4 Bawakaraeng
***

Semilir angin menyibak rambut panjangku saat ikatannya kubuka. Angin bertiup kencang dan rona senja muncul di langit yang mulai meredup menyilaukan mata. Gulungan awan yang nampak seperti ombak di laut seakan menunggu untuk diseberangi. Hamparan tanah dengan bekas batang pohon yang habis terbakar, mengerikan tetapi begitu eksotis, inilah Pos 5. Seekor anjing berbulu putih sedang berlarian. Entah, sepertinya dia sedang mencari sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Sudah ada tenda pendaki lain yang berdiri di sini. Kulepaskan sepatu yang sedari tadi membungkus kakiku. Seketika dinginnya hawa pegunungan merasuk ke sendi tulang kaki. Terasa kaku dan menusuk hingga menjalar naik ke sekujur tubuh. Lelah..tetapi inilah perjalanan yang menyenangkan. Syukur ucapku kami bisa menjejakkan kaki di Pos 5 dengan selamat. Tujuan kami hari ini tercapai juga.

Malam ini kami akan makan bersama tetangga camp. Menu yang membuatku sangat merindukan rumah..tersaji nasi putih, sambal goreng tempe, dan ikan asin yang dipanaskan di api unggun agar matang. Kalian teman camp yang sangat menyenangkan. Kami pun berbagi cerita ditemani kehangatan teh dan api unggun yang masih membara. Sesekali gelak tawa berpadu dengan hembusan angin yang kencang. Ya, sampai saya pun bisa mendengarkan suara tiupan angin. Malam semakin larut, namun saya tidak sanggup menahan dingin dan bergegas masuk kedalam tenda. Suhu dingin yang menusuk tulang mencapai puncaknya saat menjelang subuh. Aldi menarik rapat sarung tidurnya.  Menggigil adalah hal yang harus kami rasakan. Lutut kami bergetar... Tuhan, terima kasih hawa dingin ini..kami bisa merasakan hidup di hutan..dengan damai.
Fajar dan sunset Pos 5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar