Sabtu, 20 April 2013
Jejak sepatu gunung masih terlihat jelas di
jalan setapak ini. Aroma khas pohon pinus yang berderet rapi, terhirup masuk
melalui lubang hidung. Suhu yang sejuk tak mampu manghalau aliran peluh yang
mulai bercucuran membasahi wajah. Angin sepoi berhembus diantara dedaunan,
namun cuaca begitu cerah. Beban yang tergantung di pundak menambah keletihan
yang nampak di wajah kami. Nafas terengah-engah seiring langkah kaki yang
menapak. Ini bukanlah suatu adegan penyiksaan fisik, tetapi kami akan menapak
bumi ini untuk berziarah di sebuah gunung eksotis tepat di Kab.Gowa, Sulawesi
Selatan...tak begitu tinggi, tetapi dialah “Gunung Mulut Tuhan” yang lebih
dikenal dengan nama Gunung Bawakaraeng..berketinggian 2883 Mdpl.
 |
| At starting point..hutan pinus Lembanna |
 |
| Gaya dulu... Taken by: Fajar |
Matahari beranjak ke barat saat kami tiba di
sebuah tempat yang dinamakan Pos 2 oleh pendaki gunung ini. Suara riak dari
mata air menyatu dengan keheningan hutan. Tiada syukur yang terkira ketika kami
membasuh lembut wajah kami dengan air pegunungan. Setangkup air jernih itu pun
masuk membasahi kerongkonganku. Fajar, seorang kawan perjalananku sedang asyik
membersihkan tanah yang menempel di alas kakinya. Namun diantara kami berempat,
tak ada yang mampu menandingi kotornya alas kakiku. Jaguar Paw, sepatu hiking
yang baru terbeli beberapa bulan lalu kini nampak kotor dengan tempelan tanah.
Namanya kuambil dari nama seorang pemeran lelaki tangguh di sebuah film buatan
luar negeri yang bercerita tentang suku maya di daratan amerika sana. Tapak Jaguar,
yah..nama yang gagah.
 |
| Pos 2 Bawakaraeng |
Di sudut lain tempat ini, 2 orang kawan
perjalananku yang lain, Sam dan Aldi sedang memasak untuk pengganjal perut
kami. Tujuan kami Pos 5 tak begitu jauh pun dengan medan yang landai. Kami
memutuskan hanya menikmati seduhan kopi hitam pekat dan mie instan. Pukul 16.00
kami kembali melanjutkan perjalanan menembus hutan rimba. Benar-benar fisikku
sudah tidak kuat lagi. Kaki ini sudah lelah menapak, terkadang saya berhalusinasi sehingga kami sering beristirahat sejenak untuk memfokuskan
pikiran dan menenggak air dari veldpless
hijau yang tergantung di ranselku. “Sedikit lagi sampai..sedikit lagi”, begitu
kata Sam bersemangat.
 |
| Pos 3 Bawakaraeng |
 |
| Pos 4 Bawakaraeng |
***
Semilir angin menyibak rambut panjangku saat
ikatannya kubuka. Angin bertiup kencang dan rona senja muncul di langit yang
mulai meredup menyilaukan mata. Gulungan awan yang nampak seperti ombak di laut
seakan menunggu untuk diseberangi. Hamparan tanah dengan bekas batang pohon
yang habis terbakar, mengerikan tetapi begitu eksotis, inilah Pos 5. Seekor
anjing berbulu putih sedang berlarian. Entah, sepertinya dia sedang mencari
sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Sudah ada tenda pendaki lain yang
berdiri di sini. Kulepaskan sepatu yang sedari tadi membungkus kakiku. Seketika
dinginnya hawa pegunungan merasuk ke sendi tulang kaki. Terasa kaku dan menusuk
hingga menjalar naik ke sekujur tubuh. Lelah..tetapi inilah perjalanan yang
menyenangkan. Syukur ucapku kami bisa menjejakkan kaki di Pos 5 dengan selamat.
Tujuan kami hari ini tercapai juga.
Malam ini kami akan makan bersama tetangga
camp. Menu yang membuatku sangat merindukan rumah..tersaji nasi putih, sambal
goreng tempe, dan ikan asin yang dipanaskan di api unggun agar matang. Kalian
teman camp yang sangat menyenangkan. Kami pun berbagi cerita ditemani
kehangatan teh dan api unggun yang masih membara. Sesekali gelak tawa berpadu
dengan hembusan angin yang kencang. Ya, sampai saya pun bisa mendengarkan suara
tiupan angin. Malam semakin larut, namun saya tidak sanggup menahan dingin dan
bergegas masuk kedalam tenda. Suhu dingin yang menusuk tulang mencapai puncaknya
saat menjelang subuh. Aldi menarik rapat sarung tidurnya. Menggigil adalah hal yang harus kami rasakan.
Lutut kami bergetar... Tuhan, terima kasih hawa dingin ini..kami bisa merasakan
hidup di hutan..dengan damai.
 |
| Fajar dan sunset Pos 5 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar