Rabu, 07 Agustus 2013

20-22 April 2013 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 2)

Minggu, 21 April 2013

Pukul 06.00 sinar matahari mengetuk kelopak mata kami. Tersadar hari sudah berada di hari minggu pagi, segera air pegunungan menyentuh kulit kami untuk bersuci. Sebagai seorang muslim, kami tetap menjalankan perintahNya untuk melaksanakan shalat fardhu. Cuaca di tempat ini sangat panas. Tanpa pohon yang melindungi tentu matahari langsung menerpa bumi. Pendaki di tenda sebelah sudah lebih dulu bangun. Mereka akan berangkat lebih awal menuju puncak gunung.
“Ikuut..,” ujarku kepada Sam dan Fajar yang ingin menuju ke sumber air.  Letaknya masih berada di sekitar Pos 5, namun kita harus berjalan agak menurun untuk mencapainya. Sebuah mata air dengan aliran air yang tidak begitu deras. Namun bening..bening seperti embun pagi.
“Lalu, siapa yang akan memasak air untuk sarapan kita?,” tanya mereka.
Mataku segera melirik Aldi yang masih terbungkus sleeping bag. Aldi terpaksa harus bangun untuk menyiapkan sarapan. Kasihan....padahal sepertinya dia masih lelah setelah kemarin terus membawa carrier di pundaknya. Carrier yang berisi tenda dan beberapa peralatan tim kami. Ya, kami harus segera bergegas melanjutkan perjalanan. Pos 10 menanti kami hari ini.
Pos 5 Bawakaraeng
Sarapan pagi ini terhidang, susu yang tadinya hangat 10 menit kemudian menjadi susu dingin seperti baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Kami segera menghabiskan sarapan. Pukul 08.00 selesai berkemas, kami berpamitan kepada teman camp yang belum berangkat untuk melanjutkan perjalanan kami, lalu pamit kepada Pos 5 yang begitu eksotis, kepada gulungan awan yang masih bersembunyi malu tercerai berai, dan menitipkan harapan kepada langit yang begitu cerah pagi ini. Berempat kami kembali berbaris bagai semut. Pemandangan luas yang terlihat diantara Pos 5 dan Pos 6 sungguh membuai mata. Kami menatap pemandangan yang tersaji di hadapan kami, hamparan langit biru yang cerah dengan titik-titik kota dan sungai besar. Kami tidak bisa berlama-lama dengan waktu yang ada. Target kami adalah beristirahat sejenak di Pos 7, tempat dimana terdapat percabangan jalur menuju Lembah Ramma’ di kaki gunung dan di pos itu kembali akan membuai pandangan mata dengan pemandangan hamparan kaki gunung sejauh mata memandang.
Pemandangan antara Pos 5 dan Pos 6

Mari ngeteh di Pos 7 :)
Ki-ka: Aldi, Nita, Sam
Seduhan teh hangat tersaji di Pos 7, kawan-kawanku yang membuatnya. Walaupun mereka laki-laki, tetapi begitu gesit dalam urusan memasak makanan sekalipun. Dalam perjalanan menuju Pos 8, kami terbagi 2 kelompok. Fajar dan Sam berada di barisan depan sedangkan saya dan Aldi di belakang. Fisikku kembali lemah, tidak mampu berjalan cepat. Ranselku kembali dibawa oleh Sam. Tubuhku yang kurus memanggul ransel sendiri saja rasanya sulit. Beberapa batang pohon besar yang melintang di jalur pendakian cukup menyulitkanku, karena kaki yang sudah lemah melangkah hanya kuangkat perlahan seperti orang yang malas berjalan. Di tengah perjalanan, terpaksa kedua lututku dibalut dengan perban. Lutut kananku akhir-akhir ini mudah sakit. Sepertinya membutuhkan sedikit bantuan untuk perjalanan jarak jauh. Kata Aldi, lututku dibalut untuk membantunya kuat bergerak.
“Saya lelah sekali..,” ucapku pada Aldi yang berada di belakangku.
“Ayo istirahat lagi, duduk dan luruskan kakimu,” Aldi memberi perintah dan menyodorkan veldpless kepadaku.
“Masih jauh?,” tanyaku penasaran. Kuraih veldpless hijau dan meneguk air teh dingin yang berada di dalamnya. Jalur yang kami lalui kali ini begitu berat. Jalur panjang dihiasi dengan tekstur tanah yang menanjak lalu menurun, menanjak lagi lalu landai kemudian menurun. Ya, beberapa pendaki mengakui inilah jalur yang paling melelahkan.
“Sedikit lagi Pos 8 didepan,” Aldi mencoba memberi harapan. Mataku kembali berbinar mendengar kata sedikit. Ah, di pikiranku mungkin sedikit itu 15 menit lagi atau sedikit itu bisa 5 menit lagi. Saya berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan walau dengan nafas yang tidak lagi teratur dan jantung bekerja keras untuk memompa darah. Kabut mulai memeluk kami dan kaki ini semakin berat untuk dilangkahkan.

***
Hari ini Gunung Bawakaraeng sedang ramai, banyak tenda yang memenuhi lokasi camp di Pos 8 dan Pos 9. Ada pendaki yang sudah berkemas, ada juga yang baru akan menuju puncak keesokan harinya. Rupanya ada kegiatan Kartini Petualang hari ini. Pesertanya adalah sekumpulan pendaki perempuan dan mereka berdandan seperti pahlawan nasional RA.Kartini di puncak gunung. Mereka perempuan yang hebat, sayang kami tidak sempat bertemu dengan mereka di puncak gunung.
Sam in action! :)
Sumber air Pos 8
***

Edelweiss yang masih malu-malu bermekaran menjadi hiasan indah di sepanjang jalur Pos 9 menuju Pos 10. Akhirnya aku bisa melihat langsung bunga simbol keabadian ini, bunga yang begitu dipuja oleh para pencinta alam. Bunga yang diharamkan untuk dipetik, namun masih ada saja jemari jahil yang menarik mereka dari habitatnya. Tuhan, ciptaanmu memang begitu indah.
Saat berjalan, tiba-tiba aku dan Aldi yang sedang berjalan diguyur hujan. Mulanya gerimis, langkah kaki kami percepat. Namun hujan makin deras. Pos 10 masih beberapa ratus meter di depan mata.
“Kita berteduh dulu,” seruku pada Aldi. Kami hanya berteduh di bawah sebuah tumbuhan yang tidak begitu besar.
“Kita pakai ponco,” ujar Aldi.
“Ponco cuma satu. Kalau dipakai sendiri kemungkinan menganggu gerakan kakiku berjalan, karena ponconya besar. Kamu saja yang pakai,” kataku. “Pinjam slayermu saja, saya pakai di kepala.”
Aldi mengeluarkan slayer dari ring bagnya. Slayer itu cukup besar, kuikatkan di kepalaku agar tidak basah karena hujan. Padahal hujan begitu deras, sama saja membasahi kepalaku.
“Ponconya dipakai untuk lindungi carrier saja. Karena siapa tahu covernya tembus,” Aldi mengeluarkan ponco dan melapisi carrier yang dia bawa.
“Oke, kita lanjut jalan,” kulangkahkan kembali kaki ini. Semakin lemah. Aldi berkata Pos 10 sudah tidak begitu jauh.
Seratus meter dari lokasi camp, hujan mulai reda. Sebuah plang penanda yang terbuat dari selembar aluminium tipis bertuliskan Pos 10 yang dipaku pada batang pohon. Di sana sudah ada Fajar dan Sam yang lebih dahulu tiba. Baju yang ku kenakan ternyata sangat basah. Dinginnya memeluk badan. Beruntung di Pos 10 ini angin tidak bertiup kencang seperti di Pos 5, karena ada pohon-pohon yang cukup melindungi. Setelah tenda didirikan, Aldi beranjak menuju puncak gunung untuk menikmati sunset. Ya, hujan sudah reda dan siluet matahari kembali muncul.
Plang tanda Pos 10

Tranggulasi dan sunset
***

Pukul 18.00 suasana camp kami begitu sepi. Hanya ada tenda kami yang berdiri sendiri disana. Suara burung bersahutan untuk terbang kembali ke sarangnya. Makan malam sudah tersaji. Sebenarnya ini bukanlah makan malam karena kami memakannya saat waktu belum menunjukkan malam hari. Saya tidak berselera makan kali ini, hanya ingin segera berbaring di dalam tenda karena lelah berjalan tadi. Namun lambungku riuh berbunyi karena sedari tadi pagi belum terisi nasi. Saya dan Fajar juga mulai terserang masuk angin sedari kemarin malam di Pos 5 hingga di Pos 10 ini. Beberapa sendok suapan nasi berhasil masuk ke mulutku. Dan beberapa tegukan teh manis menambah isi lambungku.
Malam mulai menggelayut, pekat ditemani sinar bulan dan kerlipan bintang. Hawa dingin di camp ini tidak begitu menusuk seperti di Pos 5 kemarin. Tenda kami benar-benar sendiri di camp ini. Tak ada pendaki lain yang mendirikan tenda di sini. Hanya ada suara kami berempat memecah keheningan camp ini.
“Ada camp pendaki lain di sebelah kanan sana, sepertinya dua tenda. Pendaki yang kita temui kemarin di Pos 5. Saya bertemu mereka tadi sore di puncak,” kata Aldi. Mataku langsung mencari arah camp yang dimaksud Aldi, namun tidak terlihat. Banyak pohon dan rerimbunan tumbuhan. Camp di sebelah kanan memang tidak terlihat dari camp kami.
“Kita tidak sendiri? Ah, pantas saja tadi samar kedengaran suara orang lain. Pikirku darimana asalnya,” kataku.
“Iya Nita, kita kan camp di sebelah kiri. Pikirku teman-temanku yang di Pos 5 kemarin akan camp bersama kita di sini, tapi sepertinya mereka camp di bawah, di Pos 9,” tambah Aldi.

              Saya, Fajar, dan Sam memasuki tenda. Tinggalah Aldi sendiri di luar tenda, dia menikmati radiasi hangat dari api unggun dan seduhan kopi hitam. Malam ini cerah seperti malam yang kami lalui sebelumnya. Hawa dingin tidak begitu menusuk. Sesekali terdengar suara plang tanda Pos 10 yang berbunyi tertiup angin. Mungkin sengaja dipaku agak longgar ataukah sudah termakan usia sehingga pakunya mulai longgar. Suaranya terdengar sedikit mistis menurutku. Di camp ini hanya 4 orang pendaki yang tidur di sebuah tenda di suatu malam. Sepi.. Semua berharap agar segera tidur untuk menyambut sunrise esok subuh di puncak Mulut Tuhan. Api unggun pun dipadamkan. Tak ada suara lain.. Hanya itu..suara plang tanda Pos 10.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar