Selasa, 31 Juli 2012

Lembah Ramma 1819212

Delapan Belas Februari...
Sabtu itu, sekitar 2 jam menyusuri poros Makassar-Gowa, tibalah saya di sebuah desa di kaki Gunung Bawakaraeng, Kab.Gowa, tepat pukul 13.00 WITA. Namun, saya sempat kehilangan jejak Fajar dan Abel, yang mengambil jalur terdepan namun tak tahu arah menuju desa. Sinyal seluler sudah tidak mampu menjangkau langit desa ini. Beruntung 15 menit kemudian, Sam berhasil membawa kedua rekan kami yang tersesat kembali ke desa. Malam nanti, kami berencana akan menghabiskan saturday nite di Lembah Ramma, yang sesumbar menurut kawan-kawan penikmat alam adalah sebuah lembah cantik yang dipenuhi padang rumput dan sebuah sungai kecil yang tersembunyi di balik kokohnya kaki Gunung Bawakaraeng. Tim kami berjumlah enam orang. Empat orang laki-laki adalah teman kuliah saya dan seorang dari kami, Odang berbeda kampus.
Setelah beristirahat di salah satu rumah warga Desa Lembanna yang bernama Tata Supu, kami pamit untuk menuju tujuan sejati kami. Sudah pukul 14.00, satukan tekad! Kami berenam beriringan menyusuri kebun sayur warga desa hingga menembus deretan hutan pinus yang tertata rapi. Jalan cukup menanjak, saya, Abel dan Ignas merasa lelah. Sesekali kami beristirahat sekedar menikmati tetesan air dari botol air minum. Jalur menuju lembah ini sama dengan jalur pendakian menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Sesampai di POS 1, rasa haru menghampiri. Padahal kami baru mencapai starting point sebenarnya. Di lokasi ini terdapat percabangan menuju POS 2 Gunung Bawakaraeng dan menuju Lembah Ramma. Kami mengambil jalan kanan untuk menuju Lembah Ramma.
Menghirup nafas di POS 1
Kali ini Odang bertindak sebagai leader, diikuti oleh saya, Fajar, Abel, Ignas dan Sam sebagai sweeper. Berjalan beriringan menembus hutan dan sesekali kami mendapat percikan air dari langit. Kedinginan lalu kepanasan, bercampur di sore itu. Berenam kami tak luput dari gigitan binatang penghisap darah, pacet yaitu sejenis lintah namun berukuran lebih kecil. Tiap mendapat aliran air sungai kecil, kami beristirahat sejenak sekedar membersihkan bekas gigitan pacet yang menempel di tubuh kami. Lumayan, bekas gigitan pacet nampak berbekas di badan kami.
Dua jam setengah perjalanan menembus hutan yang membuat kami kelelahan, terbayar dengan tercapainya Puncak Tallung. Sebuah puncak yang merupakan salah satu titik punggungan Gunung Bawakaraeng. Terdapat sebuah batu besar, sebuah pohon cemara kecil dan in memoriam seorang pendaki yang wafat. Sayang, saat itu kabut menyelimuti hingga hanya samar terlihat indahnya Lembah Ramma di bawah sana.
Angin bertiup kencang, rembesan air dari langit turun kembali mengguyur badan kami. Saya melepas ponco yang digunakan daritadi. Ponco ini kebesaran dan sedikit akan mengganggu perjalanan bila dipakai. “Kita turun lewat sini.”, ujar Odang sambil mengarahkan menuju sebuah jalan curam. Wah, kami harus menuruni punggungan! Hujan turun dengan derasnya membuat kami berenam basah kuyup. Jalan curam dan licin, kedinginan, beban berat yang kami pikul, membuat kami lebih berhati-hati. Saya dan Odang menjadi yang terakhir menuruni punggungan itu. Namun, sesampai di bawah, ternyata kami berenam salah jalur! Area camp masih di sebelah kiri dengan jarak beberapa meter. Sedang yang di depan kami adalah kubangan lumpur. Segera kami mencari jalan pintas untuk mencapai area camp. Beruntung kami dengan cepat menemukan jalur. Lalu kami mendirikan tenda di lokasi camp. Ada pendaki lain yang sudah mendirikan tendanya. Hujan masih turun dengan derasnya. Kami mencapai Lembah Ramma sudah pukul 17.00.
Saya terduduk mengenakan ponco di sebuah gundukan bukit sebelah lokasi tenda. Kedinginan dan lapar membuat kaki saya sulit bergerak. Kelima rekan saya membantu mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, kami menghangatkan diri di dalam tenda. Hujan perlahan mulai reda. Secangkir kopi hangat dan roti bercampur meises menjadi teman di sore yang dingin itu. Langit bertransformasi menuju kegelapan malam.
Ketika malam tiba, Ignas segera memasak untuk keperluan makan malam kami. Sam dan Fajar membantu Ignas memasak. Menunya adalah nasi, mie kuah bercampur telur, dan telur rebus. Sesekali kami keluar tenda menikmati udara malam di alam bebas. Hujan telah berhenti, dan tergantikan oleh taburan bintang. “Yang kayak gini nggak ada di kota! Di kota cuma ada gedung tinggi!”, kataku sambil memandang takjub kilauan benda bercahaya di langit malam. Tetapi langit cerah tak bertahan lama, segera terganti oleh rintik hujan. Suara aliran air sungai menemani tidur kami di pukul 23.00 waktu Lembah Ramma.
Mejeng dalem tenda nunggu dinnerr!! \(^o^)/
Gemericik hujan yang sedari tengah malam tadi, masih menyambut hingga pagi ini. Saya menggeliat dari balik sleeping bag hitam. Langit sudah terang, sudah pukul 06.00. Kawan yang lain masih tertidur. Odang bergerak-gerak dari balik sleeping bagnya. Rupanya dia ikut terbangun. Saya sedikit bermalas-malasan, hujan lalu reda sejam kemudian. Saya beranjak keluar menuju sungai di samping tenda kami. Seketika saya takjub dengan apa yang saya lihat. Sebuah lembah cantik yang berumput hijau dan dialiri sebuah sungai berair jernih dikelilingi oleh Gunung Bawakaraeng. Eksotis sekali! Di Lembah Ramma ini terdapat sebuah rumah milik Tata Mandong, sang juru kunci Lembah Ramma. Beliau sudah lama mengabdikan diri menjaga kelestarian alam Bawakaraeng.
Camp di Lembah Ramma
Sarapan kami pagi ini adalah kopi, susu, dan beberapa bungkus cemilan. Target kembali menuju desa adalah pukul 12.00. Saya dan Odang sibuk memotret keadaan sekeliling, tak ingin melewatkan secuil pun keindahan lembah ini. Camp para pendaki lain berdiri di dekat tenda kami. Mendadak saya dan Odang menjadi model dan fotografer bermodal kamera ponsel. Ternyata, longsoran baru saja terjadi saat malam tadi. Bekasnya masih terlihat jelas. Pendaki lain menatap ke arah longsoran. Saya lalu melihat ke arah sebuah pohon kecil nun jauh di atas sana. “Itu Tallung!”, tunjukku ke arah satu titik  punggungan. Ternyata Puncak Tallung terlihat sangat jauh dari lembah ini. Bagaimana kaki kecil kami menapaki jalanan yang curam di tengah hujan yang begitu deras kemarin sore? Menakjubkan bagi seorang pemula seperti saya!
Motret depan tenda
Abel dan Fajar menikmati guyuran air sungai sebelum kami beranjak pulang. Yah, pukul 12.00 kami meninggalkan Lembah Ramma. Kaki kecil kami kembali menapaki jalan menuju Puncak Tallung. Lelah tersirat di wajah saya saat mencapai Puncak Tallung. Gembira menyelimuti. Kami mengabadikan gambar di tempat itu, lalu sejenak berdoa di sebuah in memoriam..
Ini puncak Talung!! (ki-ka: Sam, Odang, Nyta, Fajar, Ignas, Abel)
Perjalanan pulang menuju desa tidak terasa berat dibandingkan saat berangkat. Kami memerlukan waktu 2 jam untuk kembali ke rumah Tata Supu. Rasa lelah tergurat di wajah kami, namun tersamarkan senyuman bahagia kami. Yah..kami berhasil mencapai Lembah Ramma. Kami adalah partner bertualang. Dan suatu saat kami akan kembali menyapa Lembah Ramma! Aamiin! Di atas motor, saya membalikkan badan, melihat pelangi di langit Lembanna, lalu tersenyum. See you soon Lembanna!
Pelangi Lembanna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar