“Fajar, bangun! Ayo kita sholat subuh..sudah pukul 5,” seruku pada Fajar yang masih bersembunyi di balik sleeping bag. Dia menggeliat meraih handphone untuk melihat waktu.
“Ha..sudah pukul 5?
Oke,” yang kubangunkan terbangun dengan mimik wajah yang masih ingin
tidur. Saya juga masih ingin tidur. Namun jam di handphone sudah menunjukkan pukul 05.00 subuh. Saya, Fajar, dan Sam
ingin menjadi pemburu sunrise puncak gunung.
Pukul 06.00 kami
bertiga bergegas naik ke puncak gunung. Puncak gunung dan camp kami bisa
ditempuh dalam 10-15 menit. Aldi masih tertidur di tenda. Sulit membangunkannya dan
kami sepakat untuk melihat sunrise tanpa dia. Saat kami melewati batas
vegetasi, angin bertiup kencang. Siluet matahari pagi mulai nampak. Menyembul
malu-malu seperti seorang gadis dengan pipi merona merah. Cantik sekali.
Di puncak inilah
berdiri sebuah tugu yang lazim disebut tranggulasi, titik penanda puncak
tertinggi suatu gunung.
“Yeeiyy!!!”, teriakku
senang. “Kita rombongan pertama yang mencapai puncak pagi ini.
Wuuuww...sunrisee!!!.”
![]() |
| Berdiri di atas tranggulasi Bawakaraeng |
Setelah kami tiba di
tranggulasi ini, pendaki -yang berada di camp sebelah kanan-, juga mulai naik.
Sunrise di arah timur membuat kami senang bagai mendapat sesuatu yang begitu
kami impikan. Kami begitu terkagum melihat pemandangan pagi di puncak gunung.
“Terima kasih Yaa Allah....,”
ucapku pelan. “Ibuuuuu saya di siniiiiii.....!!,” saya berteriak kencang ke arah di mana
kota terletak, seakan ibu yang berada di Makassar bisa mendengar teriakanku
dari puncak gunung ini.
Tiap sudut pemandangan
ini kami abadikan melalui kamera handphone.
Lalu kami menikmati sedikit biskuit dan air yang kami bawa dari camp. Ucapan syukur
dan bahagia tidak henti kuucapkan dalam hati. Seperti kata Slank, Terlalu Manis
Untuk Dilupakan......
![]() |
| Pagi di puncak.. Lautan awan mulai terlihat Ki-ka: Fajar, Nita, Sam |
Selamat Hari Bumi
22 April.. dari sini... dari Puncak Bawakaraeng... :)
*selesai*
*selesai*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar