Sebuah ransel yang berisi
beberapa bahan makanan tersandar rapi di sebuah dinding warung di wilayah
Samata, Kab. Gowa. Tak jauh darinya, 2 orang lelaki muda sedang asik bercengkrama
di atas sepeda motor. Salah satu dari mereka juga mengenakan ransel di
punggungnya. Dan tak jauh dari 2 laki-laki itu ada seorang perempuan yang duduk
di sebelah ransel yang tersandar tadi.
Sesekali perempuan itu melihat jam di layar ponselnya dan menelepon
seseorang.
“Nit, mana temanmu?,” Nduz lalu
turun dari motor dan mendekat ke arah tempatku duduk.
“Sebentar lagi katanya. Sudah di
daerah Antang dia.”, tuturku. Ya, kami bertiga sedari tadi menunggu kedatangan
Fandy. Hari ini, Minggu, 23 September 2012, pukul 10.30 cuaca sangat cerah.
Begitu cerah hingga panasnya menyelinap masuk ke badan kami.
Putra masih setia duduk di atas
sadel motornya. Tidak beranjak dari tempatnya hingga Fandy datang 30 menit
kemudian. Pukul 11.00 berempat kami memacu tunggangan kuda besi ke arah
Parangloe.
![]() |
| Poros Samata, Gowa |
Di perjalanan, saya kembali sibuk
menghubungi seorang kawanku bernama Miftah, namun saya lebih suka memanggilnya
Om Miftah. Dia lebih tua beberapa tahun dariku. Badannya berisi dengan rambut
gondrong sebahu. Om Miftah sangat menyukai kegiatan di bawah air, baik itu snorkling ataupun diving. Kami berempat ingin meminta bantuan Om Miftah untuk
mengantarkan kami menuju lokasi Air Terjun Parangloe. Tak ada satupun dari kami
berempat yang mengetahui lokasinya.
Masih di daerah Samata, tepat di
sebuah belokan jalanan, Om Miftah telah menunggu kami. Dia sudah siap
mengendarai sepeda motornya. Jadilah 4 sepeda motor beriringan menuju arah
Parangloe.
Air Terjun Parangloe terletak di
Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa. Tepatnya di kawasan hutan lindung milik
Departemen Kehutanan. Tak cukup 30 menit dari Samata untuk mencapai pintu
gerbangnya. Di kawasan hutan lindung itu, banyak pepohonan yang menjulang
tinggi. Namun terdapat jalan setapak yang membelah hutan. Sejauh 1 kilometer kondisi
jalan setapak itu tidak mulus alias berbatu. Agak menyusahkan bila mengendarai
motor untuk melewati jalan berbatu itu. Nduz sibuk mengendarai motornya untuk
melewati jalanan berbatu. Wajahnya kelelahan karena motornya begitu susah
melewati batuan. Om Miftah memimpin jalan di depan, lalu Fandy dan Putra. Nduz
berada di barisan belakang.
“Saya jalan saja ya. Susah
kayaknya kalau saya masih di atas motor. Mungkin Om Miftah menunggu di tempat
yang sudah tidak jauh.”, saya lalu turun dari motor Nduz dan memilih berjalan
kaki. Sambil berjalan, mataku berkeliling melihat sekitar. Benar-benar keren!
Pepohonan menjulang tinggi, saya bagai liliput berada di sebuah benteng “hidup”.
Tak lama saya berjalan, sudah ada
Om Miftah yang sedang santai mengepulkan asap rokok dan Fandy di sebelahnya.
Putra masih mengendarai motornya tak jauh dari Om Miftah berdiri. Sedangkan
Nduz masih di belakang Putra. Setelah semua berkumpul, kami kembali melanjutkan
perjalanan menyusuri jalan setapak. Kali ini jalan tidak berbatu, motor Nduz
aman melewatinya.
![]() |
| Nduz ketinggalan |
“Ayo, jalan lagi. Tidak jauh
sampai di air terjun. Jalan terus saja, nanti sampai di sebuah tempat agak luas
yang bisa menampung beberapa tenda. Dari situ kita jalan kaki menuju air
terjun.”, Om Miftah lalu menjelaskan rute kami selanjutnya.
“Ok! Tunggu, saya foto hutan
dulu!.”, seruku sambil mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar keadaan hutan.
Saya kembali berboncengan dengan Nduz. Namun kali ini, Om Miftah berada di
barisan belakang.
![]() |
| Welcome to the jungleee |
Dalam perjalanan menuju air
terjun, kami bertemu beberapa orang yang sepertinya warga sekitar air terjun. Saya
melemparkan senyum kepada mereka, namun lupa bertanya mereka hendak kemana di
hutan rimba ini.
Sampailah kami di sebuah tempat
yang yaah...memang agak luas yang mampu menampung beberapa tenda. “Ah, di tempat
ini biar tenda induk didirikan, bisa juga.”, seru Nduz takjub melihat
tempatnya. Tak jauh dari situ, kami memarkir motor karena trek selanjutnya
ditempuh dengan berjalan kaki.
Keempat laki-laki itu sangat
bersemangat menuju air terjun, mereka jadi lupa denganku dan membiarkanku
berada di barisan paling belakang. Beruntung, Nduz yang membawakan ranselku.
Suara gemuruh air terjun makin
terdengar jelas. Tak jauh lagi, pikirku. Dan benar! Voilaaa!! Inilah air terjun
Parangloe ituuu.....
![]() |
| Air Terjun Parangloe, 23-9-2012 |
Saya, Nduz, Putra, dan Fandy
langsung takjub begitu melihat air terjun. Tempat yang dulunya kami kenal
kemasyhurannya hanya melalui cerita dan gambar, kini terlihat nyata di hadapan
kami. Masing-masing mengeluarkan kamera dan sibuk mengambil gambar. Ada beberapa
pengunjung lain juga saat itu, namun tidak ramai. Pada saat kami datang, musim
kemarau sedang melanda. Debit air terjun tidak begitu besar, malah kering. Agak
berbeda dengan beberapa gambar yang kami lihat, airnya banyak dan sangat indah.
![]() |
| Salah satu sisi Air Terjun Parangloe |
Karena debit air berkurang, tidak
terlalu membahayakan untuk bermain di air, kami lalu menyeberangi sungai di
bawah air terjun untuk mencapai tepi yang di sebelah. Ya, kami akan mencari
tempat untuk bernaung sejenak. Cuaca masih sangat cerah, kita bisa melihat dasar
sungai. Mengerikan, pikirku. Bebatuannya licin dan letak tiap batuan juga tidak
teratur. Kami harus berjalan hati-hati agar tidak terperosok masuk di antara
batuan. Air Terjun Parangloe juga dikenal dengan “keganasannya”. Sudah ada
beberapa kali kasus orang terseret arus sungai ketika berada di sungainya.
Tentu berita yang agak mengerikan tersebut juga sempat memenuhi pikiran kami
dan membuat kami tetap waspada walaupun debit air berkurang. Musibah tidak tau
kapan akan datang.
Ketiga ransel sudah diletakkan di
atas batu sungai. Berlima kami terduduk lelah.
Namun godaan ngopi-ngopi seakan menjadi ritual bila berkumpul. Fandy lalu mengambil trangia dari balik ranselnya dan mulai mengambil air. “Gilee....kita bawa 2 kompor hanya untuk setengah hari! Haahahhaa...,” saya terbahak. Nduz juga membawa kompor gas lapangan yang berukuran kecil. Jadilah kami seperti ingin berpesta dengan memasak banyak makanan.
![]() |
| Pemandangan sungai dari camp kami. |
Namun godaan ngopi-ngopi seakan menjadi ritual bila berkumpul. Fandy lalu mengambil trangia dari balik ranselnya dan mulai mengambil air. “Gilee....kita bawa 2 kompor hanya untuk setengah hari! Haahahhaa...,” saya terbahak. Nduz juga membawa kompor gas lapangan yang berukuran kecil. Jadilah kami seperti ingin berpesta dengan memasak banyak makanan.
Om Miftah pamit pulang kembali ke
Samata saat kami selesai ngopi. Rupanya dia sedang ada kesibukan lain. Jadilah
kami berempat tinggal di air terjun untuk menikmati makan siang seadanya.
![]() |
| Mie kuah ala Chef Nduz Saya dan Fandy yang nyuci piring. Hahahahaaa... |
Dua buah pohon dimaanfatkan Putra
untuk menggantung hammock yang
dibawanya. Ah! Menyenangkan sekali tiduran di tepi air terjun. Pukul 16.00 kami
bergegas pulang. Mentari petang semakin terik. Dengan perasaan gembira, kami
kembali ke Kota Makassar. Kembali ke rutinitas kami. Dan esok Senin, kembali
akan membuat pikiran penat. Terima Kasih, Parangloe!

































.jpg)
