Minggu, 22 Desember 2013

Air Terjun Parangloe

Sebuah ransel yang berisi beberapa bahan makanan tersandar rapi di sebuah dinding warung di wilayah Samata, Kab. Gowa. Tak jauh darinya, 2 orang lelaki muda sedang asik bercengkrama di atas sepeda motor. Salah satu dari mereka juga mengenakan ransel di punggungnya. Dan tak jauh dari 2 laki-laki itu ada seorang perempuan yang duduk di sebelah ransel yang tersandar tadi.  Sesekali perempuan itu melihat jam di layar ponselnya dan menelepon seseorang.
“Nit, mana temanmu?,” Nduz lalu turun dari motor dan mendekat ke arah tempatku duduk.
“Sebentar lagi katanya. Sudah di daerah Antang dia.”, tuturku. Ya, kami bertiga sedari tadi menunggu kedatangan Fandy. Hari ini, Minggu, 23 September 2012, pukul 10.30 cuaca sangat cerah. Begitu cerah hingga panasnya menyelinap masuk ke badan kami.
Putra masih setia duduk di atas sadel motornya. Tidak beranjak dari tempatnya hingga Fandy datang 30 menit kemudian. Pukul 11.00 berempat kami memacu tunggangan kuda besi ke arah Parangloe.
Poros Samata, Gowa

Di perjalanan, saya kembali sibuk menghubungi seorang kawanku bernama Miftah, namun saya lebih suka memanggilnya Om Miftah. Dia lebih tua beberapa tahun dariku. Badannya berisi dengan rambut gondrong sebahu. Om Miftah sangat menyukai kegiatan di bawah air, baik itu snorkling ataupun diving. Kami berempat ingin meminta bantuan Om Miftah untuk mengantarkan kami menuju lokasi Air Terjun Parangloe. Tak ada satupun dari kami berempat yang mengetahui lokasinya.
Masih di daerah Samata, tepat di sebuah belokan jalanan, Om Miftah telah menunggu kami. Dia sudah siap mengendarai sepeda motornya. Jadilah 4 sepeda motor beriringan menuju arah Parangloe.
Air Terjun Parangloe terletak di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa. Tepatnya di kawasan hutan lindung milik Departemen Kehutanan. Tak cukup 30 menit dari Samata untuk mencapai pintu gerbangnya. Di kawasan hutan lindung itu, banyak pepohonan yang menjulang tinggi. Namun terdapat jalan setapak yang membelah hutan. Sejauh 1 kilometer kondisi jalan setapak itu tidak mulus alias berbatu. Agak menyusahkan bila mengendarai motor untuk melewati jalan berbatu itu. Nduz sibuk mengendarai motornya untuk melewati jalanan berbatu. Wajahnya kelelahan karena motornya begitu susah melewati batuan. Om Miftah memimpin jalan di depan, lalu Fandy dan Putra. Nduz berada di barisan belakang.
“Saya jalan saja ya. Susah kayaknya kalau saya masih di atas motor. Mungkin Om Miftah menunggu di tempat yang sudah tidak jauh.”, saya lalu turun dari motor Nduz dan memilih berjalan kaki. Sambil berjalan, mataku berkeliling melihat sekitar. Benar-benar keren! Pepohonan menjulang tinggi, saya bagai liliput berada di sebuah benteng “hidup”.
Tak lama saya berjalan, sudah ada Om Miftah yang sedang santai mengepulkan asap rokok dan Fandy di sebelahnya. Putra masih mengendarai motornya tak jauh dari Om Miftah berdiri. Sedangkan Nduz masih di belakang Putra. Setelah semua berkumpul, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak. Kali ini jalan tidak berbatu, motor Nduz aman melewatinya.
Nduz ketinggalan

“Ayo, jalan lagi. Tidak jauh sampai di air terjun. Jalan terus saja, nanti sampai di sebuah tempat agak luas yang bisa menampung beberapa tenda. Dari situ kita jalan kaki menuju air terjun.”, Om Miftah lalu menjelaskan rute kami selanjutnya.
“Ok! Tunggu, saya foto hutan dulu!.”, seruku sambil mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar keadaan hutan. Saya kembali berboncengan dengan Nduz. Namun kali ini, Om Miftah berada di barisan belakang.
Welcome to the jungleee

Dalam perjalanan menuju air terjun, kami bertemu beberapa orang yang sepertinya warga sekitar air terjun. Saya melemparkan senyum kepada mereka, namun lupa bertanya mereka hendak kemana di hutan rimba ini.
Sampailah kami di sebuah tempat yang yaah...memang agak luas yang mampu menampung beberapa tenda. “Ah, di tempat ini biar tenda induk didirikan, bisa juga.”, seru Nduz takjub melihat tempatnya. Tak jauh dari situ, kami memarkir motor karena trek selanjutnya ditempuh dengan berjalan kaki.
Keempat laki-laki itu sangat bersemangat menuju air terjun, mereka jadi lupa denganku dan membiarkanku berada di barisan paling belakang. Beruntung, Nduz yang membawakan ranselku.
Suara gemuruh air terjun makin terdengar jelas. Tak jauh lagi, pikirku. Dan benar! Voilaaa!! Inilah air terjun Parangloe ituuu.....
Air Terjun Parangloe, 23-9-2012

Saya, Nduz, Putra, dan Fandy langsung takjub begitu melihat air terjun. Tempat yang dulunya kami kenal kemasyhurannya hanya melalui cerita dan gambar, kini terlihat nyata di hadapan kami. Masing-masing mengeluarkan kamera dan sibuk mengambil gambar. Ada beberapa pengunjung lain juga saat itu, namun tidak ramai. Pada saat kami datang, musim kemarau sedang melanda. Debit air terjun tidak begitu besar, malah kering. Agak berbeda dengan beberapa gambar yang kami lihat, airnya banyak dan sangat indah.
Salah satu sisi Air Terjun Parangloe

Karena debit air berkurang, tidak terlalu membahayakan untuk bermain di air, kami lalu menyeberangi sungai di bawah air terjun untuk mencapai tepi yang di sebelah. Ya, kami akan mencari tempat untuk bernaung sejenak. Cuaca masih sangat cerah, kita bisa melihat dasar sungai. Mengerikan, pikirku. Bebatuannya licin dan letak tiap batuan juga tidak teratur. Kami harus berjalan hati-hati agar tidak terperosok masuk di antara batuan. Air Terjun Parangloe juga dikenal dengan “keganasannya”. Sudah ada beberapa kali kasus orang terseret arus sungai ketika berada di sungainya. Tentu berita yang agak mengerikan tersebut juga sempat memenuhi pikiran kami dan membuat kami tetap waspada walaupun debit air berkurang. Musibah tidak tau kapan akan datang.
Ketiga ransel sudah diletakkan di atas batu sungai. Berlima kami terduduk lelah.
Pemandangan sungai dari camp kami.

Namun godaan ngopi-ngopi seakan menjadi ritual bila berkumpul. Fandy lalu mengambil trangia dari balik ranselnya dan mulai mengambil air. “Gilee....kita bawa 2 kompor hanya untuk setengah hari! Haahahhaa...,” saya terbahak. Nduz juga membawa kompor gas lapangan yang berukuran kecil. Jadilah kami seperti ingin berpesta dengan memasak banyak makanan.
Om Miftah pamit pulang kembali ke Samata saat kami selesai ngopi. Rupanya dia sedang ada kesibukan lain. Jadilah kami berempat tinggal di air terjun untuk menikmati makan siang seadanya.
Mie kuah ala Chef Nduz
Saya dan Fandy yang nyuci piring. Hahahahaaa...

Dua buah pohon dimaanfatkan Putra untuk menggantung hammock yang dibawanya. Ah! Menyenangkan sekali tiduran di tepi air terjun. Pukul 16.00 kami bergegas pulang. Mentari petang semakin terik. Dengan perasaan gembira, kami kembali ke Kota Makassar. Kembali ke rutinitas kami. Dan esok Senin, kembali akan membuat pikiran penat. Terima Kasih, Parangloe!

Rabu, 07 Agustus 2013

20-22 April 2013 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 1)

Sabtu, 20 April 2013

Jejak sepatu gunung masih terlihat jelas di jalan setapak ini. Aroma khas pohon pinus yang berderet rapi, terhirup masuk melalui lubang hidung. Suhu yang sejuk tak mampu manghalau aliran peluh yang mulai bercucuran membasahi wajah. Angin sepoi berhembus diantara dedaunan, namun cuaca begitu cerah. Beban yang tergantung di pundak menambah keletihan yang nampak di wajah kami. Nafas terengah-engah seiring langkah kaki yang menapak. Ini bukanlah suatu adegan penyiksaan fisik, tetapi kami akan menapak bumi ini untuk berziarah di sebuah gunung eksotis tepat di Kab.Gowa, Sulawesi Selatan...tak begitu tinggi, tetapi dialah “Gunung Mulut Tuhan” yang lebih dikenal dengan nama Gunung Bawakaraeng..berketinggian 2883 Mdpl.
At starting point..hutan pinus Lembanna

Gaya dulu... Taken by: Fajar
Matahari beranjak ke barat saat kami tiba di sebuah tempat yang dinamakan Pos 2 oleh pendaki gunung ini. Suara riak dari mata air menyatu dengan keheningan hutan. Tiada syukur yang terkira ketika kami membasuh lembut wajah kami dengan air pegunungan. Setangkup air jernih itu pun masuk membasahi kerongkonganku. Fajar, seorang kawan perjalananku sedang asyik membersihkan tanah yang menempel di alas kakinya. Namun diantara kami berempat, tak ada yang mampu menandingi kotornya alas kakiku. Jaguar Paw, sepatu hiking yang baru terbeli beberapa bulan lalu kini nampak kotor dengan tempelan tanah. Namanya kuambil dari nama seorang pemeran lelaki tangguh di sebuah film buatan luar negeri yang bercerita tentang suku maya di daratan amerika sana. Tapak Jaguar, yah..nama yang gagah.
Pos 2 Bawakaraeng
Di sudut lain tempat ini, 2 orang kawan perjalananku yang lain, Sam dan Aldi sedang memasak untuk pengganjal perut kami. Tujuan kami Pos 5 tak begitu jauh pun dengan medan yang landai. Kami memutuskan hanya menikmati seduhan kopi hitam pekat dan mie instan. Pukul 16.00 kami kembali melanjutkan perjalanan menembus hutan rimba. Benar-benar fisikku sudah tidak kuat lagi. Kaki ini sudah lelah menapak, terkadang saya berhalusinasi sehingga kami sering beristirahat sejenak untuk memfokuskan pikiran dan menenggak air dari veldpless hijau yang tergantung di ranselku. “Sedikit lagi sampai..sedikit lagi”, begitu kata Sam bersemangat.
Pos 3 Bawakaraeng

Pos 4 Bawakaraeng
***

Semilir angin menyibak rambut panjangku saat ikatannya kubuka. Angin bertiup kencang dan rona senja muncul di langit yang mulai meredup menyilaukan mata. Gulungan awan yang nampak seperti ombak di laut seakan menunggu untuk diseberangi. Hamparan tanah dengan bekas batang pohon yang habis terbakar, mengerikan tetapi begitu eksotis, inilah Pos 5. Seekor anjing berbulu putih sedang berlarian. Entah, sepertinya dia sedang mencari sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Sudah ada tenda pendaki lain yang berdiri di sini. Kulepaskan sepatu yang sedari tadi membungkus kakiku. Seketika dinginnya hawa pegunungan merasuk ke sendi tulang kaki. Terasa kaku dan menusuk hingga menjalar naik ke sekujur tubuh. Lelah..tetapi inilah perjalanan yang menyenangkan. Syukur ucapku kami bisa menjejakkan kaki di Pos 5 dengan selamat. Tujuan kami hari ini tercapai juga.

Malam ini kami akan makan bersama tetangga camp. Menu yang membuatku sangat merindukan rumah..tersaji nasi putih, sambal goreng tempe, dan ikan asin yang dipanaskan di api unggun agar matang. Kalian teman camp yang sangat menyenangkan. Kami pun berbagi cerita ditemani kehangatan teh dan api unggun yang masih membara. Sesekali gelak tawa berpadu dengan hembusan angin yang kencang. Ya, sampai saya pun bisa mendengarkan suara tiupan angin. Malam semakin larut, namun saya tidak sanggup menahan dingin dan bergegas masuk kedalam tenda. Suhu dingin yang menusuk tulang mencapai puncaknya saat menjelang subuh. Aldi menarik rapat sarung tidurnya.  Menggigil adalah hal yang harus kami rasakan. Lutut kami bergetar... Tuhan, terima kasih hawa dingin ini..kami bisa merasakan hidup di hutan..dengan damai.
Fajar dan sunset Pos 5


20-22 April 2013 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 2)

Minggu, 21 April 2013

Pukul 06.00 sinar matahari mengetuk kelopak mata kami. Tersadar hari sudah berada di hari minggu pagi, segera air pegunungan menyentuh kulit kami untuk bersuci. Sebagai seorang muslim, kami tetap menjalankan perintahNya untuk melaksanakan shalat fardhu. Cuaca di tempat ini sangat panas. Tanpa pohon yang melindungi tentu matahari langsung menerpa bumi. Pendaki di tenda sebelah sudah lebih dulu bangun. Mereka akan berangkat lebih awal menuju puncak gunung.
“Ikuut..,” ujarku kepada Sam dan Fajar yang ingin menuju ke sumber air.  Letaknya masih berada di sekitar Pos 5, namun kita harus berjalan agak menurun untuk mencapainya. Sebuah mata air dengan aliran air yang tidak begitu deras. Namun bening..bening seperti embun pagi.
“Lalu, siapa yang akan memasak air untuk sarapan kita?,” tanya mereka.
Mataku segera melirik Aldi yang masih terbungkus sleeping bag. Aldi terpaksa harus bangun untuk menyiapkan sarapan. Kasihan....padahal sepertinya dia masih lelah setelah kemarin terus membawa carrier di pundaknya. Carrier yang berisi tenda dan beberapa peralatan tim kami. Ya, kami harus segera bergegas melanjutkan perjalanan. Pos 10 menanti kami hari ini.
Pos 5 Bawakaraeng
Sarapan pagi ini terhidang, susu yang tadinya hangat 10 menit kemudian menjadi susu dingin seperti baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Kami segera menghabiskan sarapan. Pukul 08.00 selesai berkemas, kami berpamitan kepada teman camp yang belum berangkat untuk melanjutkan perjalanan kami, lalu pamit kepada Pos 5 yang begitu eksotis, kepada gulungan awan yang masih bersembunyi malu tercerai berai, dan menitipkan harapan kepada langit yang begitu cerah pagi ini. Berempat kami kembali berbaris bagai semut. Pemandangan luas yang terlihat diantara Pos 5 dan Pos 6 sungguh membuai mata. Kami menatap pemandangan yang tersaji di hadapan kami, hamparan langit biru yang cerah dengan titik-titik kota dan sungai besar. Kami tidak bisa berlama-lama dengan waktu yang ada. Target kami adalah beristirahat sejenak di Pos 7, tempat dimana terdapat percabangan jalur menuju Lembah Ramma’ di kaki gunung dan di pos itu kembali akan membuai pandangan mata dengan pemandangan hamparan kaki gunung sejauh mata memandang.
Pemandangan antara Pos 5 dan Pos 6

Mari ngeteh di Pos 7 :)
Ki-ka: Aldi, Nita, Sam
Seduhan teh hangat tersaji di Pos 7, kawan-kawanku yang membuatnya. Walaupun mereka laki-laki, tetapi begitu gesit dalam urusan memasak makanan sekalipun. Dalam perjalanan menuju Pos 8, kami terbagi 2 kelompok. Fajar dan Sam berada di barisan depan sedangkan saya dan Aldi di belakang. Fisikku kembali lemah, tidak mampu berjalan cepat. Ranselku kembali dibawa oleh Sam. Tubuhku yang kurus memanggul ransel sendiri saja rasanya sulit. Beberapa batang pohon besar yang melintang di jalur pendakian cukup menyulitkanku, karena kaki yang sudah lemah melangkah hanya kuangkat perlahan seperti orang yang malas berjalan. Di tengah perjalanan, terpaksa kedua lututku dibalut dengan perban. Lutut kananku akhir-akhir ini mudah sakit. Sepertinya membutuhkan sedikit bantuan untuk perjalanan jarak jauh. Kata Aldi, lututku dibalut untuk membantunya kuat bergerak.
“Saya lelah sekali..,” ucapku pada Aldi yang berada di belakangku.
“Ayo istirahat lagi, duduk dan luruskan kakimu,” Aldi memberi perintah dan menyodorkan veldpless kepadaku.
“Masih jauh?,” tanyaku penasaran. Kuraih veldpless hijau dan meneguk air teh dingin yang berada di dalamnya. Jalur yang kami lalui kali ini begitu berat. Jalur panjang dihiasi dengan tekstur tanah yang menanjak lalu menurun, menanjak lagi lalu landai kemudian menurun. Ya, beberapa pendaki mengakui inilah jalur yang paling melelahkan.
“Sedikit lagi Pos 8 didepan,” Aldi mencoba memberi harapan. Mataku kembali berbinar mendengar kata sedikit. Ah, di pikiranku mungkin sedikit itu 15 menit lagi atau sedikit itu bisa 5 menit lagi. Saya berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan walau dengan nafas yang tidak lagi teratur dan jantung bekerja keras untuk memompa darah. Kabut mulai memeluk kami dan kaki ini semakin berat untuk dilangkahkan.

***
Hari ini Gunung Bawakaraeng sedang ramai, banyak tenda yang memenuhi lokasi camp di Pos 8 dan Pos 9. Ada pendaki yang sudah berkemas, ada juga yang baru akan menuju puncak keesokan harinya. Rupanya ada kegiatan Kartini Petualang hari ini. Pesertanya adalah sekumpulan pendaki perempuan dan mereka berdandan seperti pahlawan nasional RA.Kartini di puncak gunung. Mereka perempuan yang hebat, sayang kami tidak sempat bertemu dengan mereka di puncak gunung.
Sam in action! :)
Sumber air Pos 8
***

Edelweiss yang masih malu-malu bermekaran menjadi hiasan indah di sepanjang jalur Pos 9 menuju Pos 10. Akhirnya aku bisa melihat langsung bunga simbol keabadian ini, bunga yang begitu dipuja oleh para pencinta alam. Bunga yang diharamkan untuk dipetik, namun masih ada saja jemari jahil yang menarik mereka dari habitatnya. Tuhan, ciptaanmu memang begitu indah.
Saat berjalan, tiba-tiba aku dan Aldi yang sedang berjalan diguyur hujan. Mulanya gerimis, langkah kaki kami percepat. Namun hujan makin deras. Pos 10 masih beberapa ratus meter di depan mata.
“Kita berteduh dulu,” seruku pada Aldi. Kami hanya berteduh di bawah sebuah tumbuhan yang tidak begitu besar.
“Kita pakai ponco,” ujar Aldi.
“Ponco cuma satu. Kalau dipakai sendiri kemungkinan menganggu gerakan kakiku berjalan, karena ponconya besar. Kamu saja yang pakai,” kataku. “Pinjam slayermu saja, saya pakai di kepala.”
Aldi mengeluarkan slayer dari ring bagnya. Slayer itu cukup besar, kuikatkan di kepalaku agar tidak basah karena hujan. Padahal hujan begitu deras, sama saja membasahi kepalaku.
“Ponconya dipakai untuk lindungi carrier saja. Karena siapa tahu covernya tembus,” Aldi mengeluarkan ponco dan melapisi carrier yang dia bawa.
“Oke, kita lanjut jalan,” kulangkahkan kembali kaki ini. Semakin lemah. Aldi berkata Pos 10 sudah tidak begitu jauh.
Seratus meter dari lokasi camp, hujan mulai reda. Sebuah plang penanda yang terbuat dari selembar aluminium tipis bertuliskan Pos 10 yang dipaku pada batang pohon. Di sana sudah ada Fajar dan Sam yang lebih dahulu tiba. Baju yang ku kenakan ternyata sangat basah. Dinginnya memeluk badan. Beruntung di Pos 10 ini angin tidak bertiup kencang seperti di Pos 5, karena ada pohon-pohon yang cukup melindungi. Setelah tenda didirikan, Aldi beranjak menuju puncak gunung untuk menikmati sunset. Ya, hujan sudah reda dan siluet matahari kembali muncul.
Plang tanda Pos 10

Tranggulasi dan sunset
***

Pukul 18.00 suasana camp kami begitu sepi. Hanya ada tenda kami yang berdiri sendiri disana. Suara burung bersahutan untuk terbang kembali ke sarangnya. Makan malam sudah tersaji. Sebenarnya ini bukanlah makan malam karena kami memakannya saat waktu belum menunjukkan malam hari. Saya tidak berselera makan kali ini, hanya ingin segera berbaring di dalam tenda karena lelah berjalan tadi. Namun lambungku riuh berbunyi karena sedari tadi pagi belum terisi nasi. Saya dan Fajar juga mulai terserang masuk angin sedari kemarin malam di Pos 5 hingga di Pos 10 ini. Beberapa sendok suapan nasi berhasil masuk ke mulutku. Dan beberapa tegukan teh manis menambah isi lambungku.
Malam mulai menggelayut, pekat ditemani sinar bulan dan kerlipan bintang. Hawa dingin di camp ini tidak begitu menusuk seperti di Pos 5 kemarin. Tenda kami benar-benar sendiri di camp ini. Tak ada pendaki lain yang mendirikan tenda di sini. Hanya ada suara kami berempat memecah keheningan camp ini.
“Ada camp pendaki lain di sebelah kanan sana, sepertinya dua tenda. Pendaki yang kita temui kemarin di Pos 5. Saya bertemu mereka tadi sore di puncak,” kata Aldi. Mataku langsung mencari arah camp yang dimaksud Aldi, namun tidak terlihat. Banyak pohon dan rerimbunan tumbuhan. Camp di sebelah kanan memang tidak terlihat dari camp kami.
“Kita tidak sendiri? Ah, pantas saja tadi samar kedengaran suara orang lain. Pikirku darimana asalnya,” kataku.
“Iya Nita, kita kan camp di sebelah kiri. Pikirku teman-temanku yang di Pos 5 kemarin akan camp bersama kita di sini, tapi sepertinya mereka camp di bawah, di Pos 9,” tambah Aldi.

              Saya, Fajar, dan Sam memasuki tenda. Tinggalah Aldi sendiri di luar tenda, dia menikmati radiasi hangat dari api unggun dan seduhan kopi hitam. Malam ini cerah seperti malam yang kami lalui sebelumnya. Hawa dingin tidak begitu menusuk. Sesekali terdengar suara plang tanda Pos 10 yang berbunyi tertiup angin. Mungkin sengaja dipaku agak longgar ataukah sudah termakan usia sehingga pakunya mulai longgar. Suaranya terdengar sedikit mistis menurutku. Di camp ini hanya 4 orang pendaki yang tidur di sebuah tenda di suatu malam. Sepi.. Semua berharap agar segera tidur untuk menyambut sunrise esok subuh di puncak Mulut Tuhan. Api unggun pun dipadamkan. Tak ada suara lain.. Hanya itu..suara plang tanda Pos 10.

20-22 April 2103 Jagoan Neon Ziarah ke Gn.Bawakaraeng (Part 3)

Senin, 22 April 2013
            
             “Fajar, bangun! Ayo kita sholat subuh..sudah pukul 5,” seruku pada Fajar yang masih bersembunyi di balik sleeping bag. Dia menggeliat meraih handphone untuk melihat waktu.
            “Ha..sudah pukul 5? Oke,” yang kubangunkan terbangun dengan mimik wajah yang masih ingin tidur. Saya juga masih ingin tidur. Namun jam di handphone sudah menunjukkan pukul 05.00 subuh. Saya, Fajar, dan Sam ingin menjadi pemburu sunrise puncak gunung.
            Pukul 06.00 kami bertiga bergegas naik ke puncak gunung. Puncak gunung dan camp kami bisa ditempuh dalam 10-15 menit. Aldi masih tertidur di tenda. Sulit membangunkannya dan kami sepakat untuk melihat sunrise tanpa dia. Saat kami melewati batas vegetasi, angin bertiup kencang. Siluet matahari pagi mulai nampak. Menyembul malu-malu seperti seorang gadis dengan pipi merona merah. Cantik sekali.
            Di puncak inilah berdiri sebuah tugu yang lazim disebut tranggulasi, titik penanda puncak tertinggi suatu gunung.
      “Yeeiyy!!!”, teriakku senang. “Kita rombongan pertama yang mencapai puncak pagi ini. Wuuuww...sunrisee!!!.”
Berdiri di atas tranggulasi Bawakaraeng

            Setelah kami tiba di tranggulasi ini, pendaki -yang berada di camp sebelah kanan-, juga mulai naik. Sunrise di arah timur membuat kami senang bagai mendapat sesuatu yang begitu kami impikan. Kami begitu terkagum melihat pemandangan pagi di puncak gunung.
          “Terima kasih Yaa Allah....,” ucapku pelan. “Ibuuuuu saya di siniiiiii.....!!,” saya berteriak kencang ke arah di mana kota terletak, seakan ibu yang berada di Makassar bisa mendengar teriakanku dari puncak gunung ini.
            Tiap sudut pemandangan ini kami abadikan melalui kamera handphone. Lalu kami menikmati sedikit biskuit dan air yang kami bawa dari camp. Ucapan syukur dan bahagia tidak henti kuucapkan dalam hati. Seperti kata Slank, Terlalu Manis Untuk Dilupakan......
Pagi di puncak.. Lautan awan mulai terlihat
Ki-ka: Fajar, Nita, Sam
Selamat Hari Bumi 22 April.. dari sini... dari Puncak Bawakaraeng... :)

*selesai*

Kamis, 27 September 2012

Tridente Expedition Goes To 1.353 Mdpl (2-3 Juni 2012)

Saya sudah mengenal namanya sedari saya sadar hidup di dunia...
Namun saya tidak pernah tau dimana letak persisnya...
Hingga suatu hari saya ingin menemui “wujud” aslinya...
Sekedar ingin menyapa, dan berkata inilah “rumahku!”...


Siang itu.. 2 Juni 2012, saya, Ose, dan Odang berkemas-kemas untuk menanjak di ketinggian 1.353 mdpl.. Cuaca yang begitu terik tidak menyurutkan niat ini untuk menghirup kembali kabut pegunungan.

Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah Ose di daerah Mandai (Poros Makassar-Maros), menuju Desa Tompobulu, Kec.Balocci, Kab.Pangkep. Desa terakhir di kaki Gunung Bulusaraung.Menempuh perjalanan dengan sengatan matahari dan canda gurau sedikit melupakan kejenuhan saat kami menyusuri jalanan ini. Melewati jalan poros Maros-Pangkep, kami berbelok kanan menuju bekas pabrik semen Tonasa 1. Terruuusss......hingga mentok di sebuah tanda Kawasan Wisata Alam Bulusaraung, yah..Gunung ini masih termasuk Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kami beristirahat sejenak. Sebentar lagi kami akan berjalan menyusuri jalan menanjak dan kanan adalah hutan lebat, lalu di kiri tersembunyi jurang.
Berpose dulu, cuy! Hehehee..

Menyusuri jalan menanjak ini agak membuat saya deg-degan. Kemiringannya membuat jantung berdegup kencang. Namun, syukur kami berhasil melewati jalanan tanjakan dan berkelok itu. Dan kini terganti jalan datar yang paaanjaaannng dan berkelok di tengah hutan. Betul! Kami berjalan di tengah hutan! Bayangkan saja ada jalanan berbeton yang membelah hutan lebat ini! (sayang sekali, tidak sempat poto jalanannya).
Dua jam perjalanan kami tempuh dari Mandai menggunakan sepeda motor. Sampailah kami di Desa Tompubulu. Desa asri yang tersembunyi jauh di belahan hutan lebat. Kami istirahat sejenak dan menitipkan motor di rumah Tata Rasyid.

GO!! Pukul 14.30 kami beranjak. Menyusuri pematang sawah dan kebun kacang milik warga. Kami singgah sejenak di pancuran air dekat sawah untuk mengisi kekosongan perut. Pukul 15.00, setelah tenaga kembali penuh, kami akhirnya berangkat menyusuri hutan dan beberapa pos untuk mencapai lokasi camp di Pos 9.
Sepanjang perjalanan, saya dibuat takjub oleh tanjakan antara Pos 2-3-4..saya harus terus menanjak..dengan kemiringan yang lumayan membuat nafas serasa berada di ujung hembusan. Namun, sepanjang pos 1 sampai 5, terdapat sebuah shelter sederhana. Tetapi, shelternya tidak terawat, bahkan ada yang sudah rubuh.
Partner saya... \(^o^)/
ki-ka (Ose dan Odang)

Capeeekkk!!! Sumpaaahh...

Ini loh shelter yang rubuh!

Menuju Pos 5, jalanan mulai landai..betis ini sudah sesak nafas karena menyusuri tanjakan tadi. Hari sudah mulai gelap ketika kami mencapai Pos 8 yang biasa disebut Jendela Angin. Mengapa? Pos 8 adalah ruang terbuka yang berada di bibir jurang. Kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian beberapa ribu kaki. Anginnya bertiup kencang.  Wah, seandainya bisa paralayang disana. Hahahaha...Bersama pendaki lain yang kami temui di hutan, kami beristirahat sejenak di Pos 8 ini. Sudah pukul 17.00 dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 9 untuk camp.
Teman baarruuu.... :)

Ini yang memanjakan mata di Pos 8

Tiba di Pos 9 ini, terdapat sebuah areal camp yang cukup luas untuk menampung beberapa tenda pendaki. Seusai mendirikan tenda dan merapikan barang bawaan, kami segera mencari sumber mata air, yang.....aallaamaaakkk!! Jauh turun ke bawaaahh!! Letaknya masih berada di Pos 9, namun kita harus berjalan turun untuk mencapai mata air tersebut. Ya, baeklah...saya memerlukan air untuk membasuh wajah dan kaki yang sudah kotor berbalut tanah, keringat, dan debu.
Camp Pos 9

Magrib telah datang, saya segera menunaikan shalat Magrib. Inilah pengalaman pertama shalat di ketinggian, di alam terbuka, dingin, berteman suara binatang...damai sekali rasanya.
With Odang! :)
Bercelana pendek di malam hari, rasanya frreessshh!! hahahaa..

Seusai shalat Isya, kami makan malam dan dilanjutkan bermain domi, lalu ngopi bersama Adrian (teman saya yang akhirnya bertemu di camp ini lagi), dan Ose bercerita tentang pengalamannya saat mendaki Gunung Gandang Dewata pada tahun 2000 lalu. Kami semua tertawa terbahak mendengar cerita Ose. Lucu sekali! Mulai berganti mobil 41 kali PP Makassar-Mamuju, desa yang gelap gulita, babi berkeliaran, aliran sungai yang deras, kakek tua yang menyeramkan, peta dari koran, pemilihan kepala desa, hingga batu keramik sisa robohan tranggulasi asli Gandang Dewata yang membawa “berkah”.. J It’s gonna be awesome! Tepuk tangan buat Ose! Wakakakak.... Hingga kami mengantuk mendengarnya, cerita Ose layaknya sebuah dongeng..Hhe..

Ahad, 3 Juni..Pukul 07.00, BANGUUNN PAAGGII!!! Yyeeaahh!! Niat ngeliat sunrise di puncak 1.353 mdpl akhirnya PUPUS... -____- oke! Mari sarapan! Camp masih sepi.. sepertinya di camp, saya yang pertama keluar tenda, lalu mengeluarkan suara berisik untuk menyikat gigi..hingga teman di tenda lain terbangun. Segelas susu hangat dan roti tawar yang juga berlapis susu menjadi pengganjal lambung pagi ini.. J
Sarapann!! Horee!!


Assiik sekali Ose.. hha..

Pukul 07.15 kami bersiap untuk segera GO PUNCAK!! HOOREE!! SUMMIT ATTACK cuy!
Yassalaamm..ternyata buat muncak, saya harus menanjak lagi.. L doh! Keringat! Butuh waktu sekitar 15 menit untuk memegang tranggulasi 1.353 mdpl!
Hihihi...muka lelaahh!! Ayo, semangat! Dikit lagi puncak!

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ahad, 3 Juni 2012, pukul 07.30 Wita....AKHIRNYA! SUMMIT ATTACK!! Odang dengan antusias mendokumentasikan video detik-detik saat saya akan memegang tranggulasi! How Awesome! Odang hebat! HAHAHAHA....
Ehhemm....pose yang menurut beberapa teman, adalah pose paling menarik di petualangan kali ini.. :)
Padahal saya hanya sedang sibuk mencari sinyal untuk membalas beberapa SMS penting yg masuk ke hapeku..
Thankie Odang, sudah mengabadikan moment ini!

Senang, bangga (halaahh..), dan terharu (ngek!) bercampur kyk es teler.... Ibu! Liat! Saya berhasil naik di puncak gunung! Saya tidak cengeng! Walaupun, phobia ketinggian terkadang masih menghantui tapi semangat ini tidak pernah redup! Saya tau, saya lelah menanjak lalu menurun di dalam hutan, tetapi keindahan di puncak ini membalas semua rasa lelah..heheheee...
Sejauh mata memandang, hanya ada kedamaian! Wish you were here Mom! Saya tidak hanya tau tinggal di Jalan yang bernama Gunung Bulusaraung, tapi saya berhasil menemui "wujudnya", Bu! 

Walaupun hanya gunung “rendah”, tapi muncak di Bulusaraung adalah pengalaman pertama saya muncak di gunung. Awal yang mantap! :D Thankiee so muchaa buat Tridente Expedition...Ose dan Odang..kalian benarr benaarr partner yang hebat.. J Hihihiii.....
Partner terhebat...

Ada Adrian juga di puncak.. :)





see you soon Bulusaraung!



Selasa, 18 September 2012

Episode 3 Rammang-rammang with CouchSurfing Makassar


     Saya menghela nafas ketika seorang teman mengabarkan dia akan berwisata di Dusun Rammang-rammang pada esok Ahad 9 September 2012. Ffiiuuhh...kali ketiga menginjakkan kakiku di dusun itu. Yang episode pertama bersama Rimba (trekking tersesat..hahahaaa..), yang episode kedua bersama Odang, hanya sekedar mengambil gambar keindahan alam disana.
Tak ada kesibukan lain, saya mengiyakan untuk berangkat wisata bersama teman saya itu yang bernama Iyyan. Kami sepakat bertemu pukul 8.00. Dan oh..sy terlambat 15 menit dari jadwal itu.. heheheee... :p
      Pukul 8.30, kami segera GO Rammang-rammang. Ternyata, ini adalah semacam kegiatan touring bersama komunitas CouchSurfing Makassar (komunitas travelling gitu). WAW! Pesertanya 50-an orang! Saya sedikit kaget dengan jumlahnya, maklum saja selama outdoor, saya tidak pernah membawa “pasukan” sebanyak itu..paling banyak juga 6 orang.
      Di rombongan itu, terdapat 2 orang turis mancanegara yang entah saya tidak tau mereka berasal dari negeri mana? -____- Kami berbaur dengan latar belakang berbeda. Beruntung saya tidak susah bergaul dengan mereka.. J
        Kami menggunakan kendaraan pribadi menuju TKP. Pukul 10.00 kami tiba dan segera memulai trekking di sawah yang saaanggaaaatt kering!! 1 kata > TANDUS!
Panas mulai membakar kulit.. Di sana kami menyusuri hutan batu. Yah, baru pertama saya menyusuri “hutan” ini... bagus juga...CANTIK! Seperti berada di dalam hutan beneran, diapit batuan karst yang menjulang tinggi. Gua-gua kecil dan mata air juga menghiasi hutan ini. Sayang, bila bukan musim kemarau, hutan ini sulit dilalui. Dikarenakan berada di belakang sawah warga, dan bawahnya digenangi oleh air. Jadi, sebaiknya datang saat musim kemarau begini.
     SATU hal yang paaaliiinggg menjengkelkan adalah handphone saya yang tiba tiba HANG! OH..GOD... kameraa..manaa kameerraa..... NGGAK BAWA! -__- Okesip...ga ada banyak poto..ga cukup 5 kutip.
Di kawasan hutan tersebut, bila tak hapal jalur kita akan sedikit tersesat. Beruntung saat itu kami membawa guide yang merupakan anak seorang warga disana. Kami memanjat tebing, lalu menuruninya, menyusuri gua kecil, dan makan siang di “ballroom” Rammang-rammang! J
Wah, kegiatan touring yang seruu..namun sayang, hanya sebentar..pukul 13.00 kami sudah berlalu untuk tujuan selanjutnya > Taman Nasional Leang-leang.
Oke, Rammang-rammang! See you next time! With me and my partners!! :D

CouchSurfing Makassar Goes To Rammang-rammang

Rabu, 12 September 2012

#Mission Adventurous 1 > Episode 1 Rammang-rammang with Rimba


Berpetualang ke alam bebas untuk pertama kali adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tujuan kali ini adalah melihat gugusan hutan karst yang terletak di Dusun Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kab.Maros. Saya segera packing untuk menyiapkan keperluan selama di alam nanti. Saya akan bertualang berdua bersama partner baru saya yang bernama Rimba. Namun saya lebih akrab memanggilnya Kakak Guru, karena dia lebih berpengalaman berpetualang di alam bebas ketimbang saya.
29 Oktober 2011, pukul 10.00, kami start dari Makassar menggunakan kendaraan roda dua. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di dusun tersebut. Kami sempat bingung mencarinya. Karena hanya bermodal informasi melalui internet dan omongan teman-teman yang pernah kesana. Menurut informasi, hutan batu di kawasan Rammang-rammang sangat indah, namun ada jalur menyusuri sungai untuk sampai kesana.
Untuk mencari desa tersebut, di jalan poros Makassar-Maros kita berbelok menuju pabrik Semen Bosowa. Kami bertanya kepada warga sekitar bila ingin menyusuri sungai, “Harganya sekitar 150 ribu.”, kata seorang Ibu yang kami tanya. Harga yang mahal menurut kami, karena saat itu kami hanya pergi berdua. Jadi kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak mencapai kawasan hutan batu tersebut. Tak jauh dari jalan masuk menuju pabrik semen, di sebelah kiri tepatnya di samping Gardu Induk Maros, terdapat sebuah jalan kecil. Kami menyusuri jalan tersebut. Di kanan dan kiri terdapat hamparan sawah dan gugusan hutan karst yang begitu indah. Namun, langit tampak mendung.

Mari menyusuri Dusun Rammang-Rammang!! :D


Sudah pukul 12.00 dan kami masih meraba jalan. Lah, dimana sungainya???, pikirku heran. Kami menemui jalan buntu, di depan kami terhampar sawah dan memutuskan menitipkan motor di salah satu rumah warga. Hanya ada 4 rumah dan sebuah surau dalam satu kawasan tersebut. Dan tiap rumah berjarak ratusan kilometer.

Memandang sebuah surau...

Baru menjejakkan kaki beberapa langkah, kami sudah diguyur hujan. Segera kami berlindung di sebuah surau sambil menyusun rencana selanjutnya. Dan kami memutuskan untuk bertanya pada seorang warga yang rumahnya tak jauh dari tempat kami berpijak. Setelah hujan reda, matahari bersinar menyengat kulit, kami harus melewati pematang sawah untuk berjalan. Kami bertanya jalur pada tiap warga yang lewat, namun semua petunjuknya hanya membawa kami pada sebuah jalan dusun yang sepi, kami menyusuri jalan setapak selama 2 jam dengan diguyur hujan lalu kembali terik dan kami menyadari bahwa kami tersesat!
Segera kami berbalik kembali ke starting point. Saya mencoba menghubungi teman yang pernah ke hutan batu itu, namun sinyal seluler juga tak menjangkau seluruh wilayah desa itu. Rimba sibuk dengan kamera digitalnya. Dia memotret tiap moment yang kami lalui. Menurut teman yang berhasil saya hubungi, kami harus mencapai Gua Telapak Tangan. Ha? Gua dimana itu? Kami menyusun ulang rencana dengan berjalan menyusuri arah yang berlawanan. Kali ini saya benar-benar lelah, perut keroncongan dan kaki sudah pegal untuk melangkah. Namun semangat yang menggebu mengalahkan segala lelah. Jalur kali ini kami harus bermain lumpur. Untuk menyusuri pematang, terlalu jauh. Kami hanya berjalan memotong sawah warga yang tidak ditanami padi. Namun kondisinya sangat becek dan berlumpur. Langit kembali mendung dan kami berada di tengah sawah..yah, saya sedikit was-was menghadapi keadaan seperti ini, maklum saja ini adalah hal pertama dalam hidup saya. Dan kami memutuskan bertanya sekali lagi kepada warga yang sedang bekerja di samping rumahnya, “Pak, gua telapak tangan itu dimana?”, tanyaku penasaran. “Wah, masih arah sana Dek! Masih jauh!”, tutur seorang bapak sambil menunjuk ke arah sana sana saaanaaaa yg hanya terlihat sawah dan tebing karst. “Fiiiuuhh..”, hela nafasku terdengar. SAYA LELAAAHH..... -________-
Rimba memutuskan untuk mengakhiri petualangan kali ini. Kami mengucap terima kasih kepada warga tersebut dan segera mengambil sepeda motor yang terparkir. Belum seberapa jauh meninggalkan parkiran, hujan lalu kembali menyapa kami. Niat untuk berhenti sejenak memasak makan siang, menjadi tertunda. Kami beristirahat sejenak di depan sebuah warung kecil di mulut desa, melihat tiap tetesan bulir hujan yang menyapa bumi. Ah, Rammang-rammang...Kau masih membuat saya penasaran....... Janji, saya akan menyapamu kembali... Tunggu saja! :D
Ketika hujan reda, kami tak langsung kembali ke Makassar, tetapi kami ingin menikmati alam tebing Lopi-lopi! \(^o^)/ yeahh!! Kami akan makan siang dan istirahat di bawah tebingg!!
-bersambung....-