Minggu, 21 April 2013
Pukul 06.00 sinar matahari mengetuk kelopak
mata kami. Tersadar hari sudah berada di hari minggu pagi, segera air pegunungan
menyentuh kulit kami untuk bersuci. Sebagai seorang muslim, kami tetap
menjalankan perintahNya untuk melaksanakan shalat fardhu. Cuaca di tempat ini
sangat panas. Tanpa pohon yang melindungi tentu matahari langsung menerpa bumi.
Pendaki di tenda sebelah sudah lebih dulu bangun. Mereka akan berangkat lebih
awal menuju puncak gunung.
“Ikuut..,” ujarku kepada Sam dan Fajar yang
ingin menuju ke sumber air. Letaknya
masih berada di sekitar Pos 5, namun kita harus berjalan agak menurun untuk
mencapainya. Sebuah mata air dengan aliran air yang tidak begitu deras. Namun
bening..bening seperti embun pagi.
“Lalu, siapa yang akan memasak air untuk
sarapan kita?,” tanya mereka.
Mataku segera melirik Aldi yang masih terbungkus
sleeping bag. Aldi terpaksa harus
bangun untuk menyiapkan sarapan. Kasihan....padahal sepertinya dia masih
lelah setelah kemarin terus membawa carrier
di pundaknya. Carrier yang berisi
tenda dan beberapa peralatan tim kami. Ya, kami harus segera bergegas melanjutkan
perjalanan. Pos 10 menanti kami hari ini.
 |
| Pos 5 Bawakaraeng |
Sarapan pagi ini terhidang, susu yang tadinya
hangat 10 menit kemudian menjadi susu dingin seperti baru dikeluarkan dari
lemari pendingin. Kami segera menghabiskan sarapan. Pukul 08.00 selesai
berkemas, kami berpamitan kepada teman camp yang belum berangkat untuk
melanjutkan perjalanan kami, lalu pamit kepada Pos 5 yang begitu eksotis, kepada
gulungan awan yang masih bersembunyi malu tercerai berai, dan menitipkan
harapan kepada langit yang begitu cerah pagi ini. Berempat kami kembali
berbaris bagai semut. Pemandangan luas yang terlihat diantara Pos 5 dan Pos 6
sungguh membuai mata. Kami menatap pemandangan yang tersaji di hadapan kami,
hamparan langit biru yang cerah dengan titik-titik kota dan sungai besar. Kami
tidak bisa berlama-lama dengan waktu yang ada. Target kami adalah beristirahat
sejenak di Pos 7, tempat dimana terdapat percabangan jalur menuju Lembah Ramma’
di kaki gunung dan di pos itu kembali akan membuai pandangan mata dengan pemandangan
hamparan kaki gunung sejauh mata memandang.
 |
| Pemandangan antara Pos 5 dan Pos 6 |
 |
Mari ngeteh di Pos 7 :)
Ki-ka: Aldi, Nita, Sam |
Seduhan teh hangat tersaji di Pos 7,
kawan-kawanku yang membuatnya. Walaupun mereka laki-laki, tetapi begitu gesit
dalam urusan memasak makanan sekalipun. Dalam perjalanan menuju Pos 8, kami
terbagi 2 kelompok. Fajar dan Sam berada di barisan depan sedangkan saya dan
Aldi di belakang. Fisikku kembali lemah, tidak mampu berjalan cepat. Ranselku
kembali dibawa oleh Sam. Tubuhku yang kurus memanggul ransel sendiri saja
rasanya sulit. Beberapa batang pohon besar yang melintang di jalur pendakian
cukup menyulitkanku, karena kaki yang sudah lemah melangkah hanya kuangkat
perlahan seperti orang yang malas berjalan. Di tengah perjalanan, terpaksa kedua
lututku dibalut dengan perban. Lutut kananku akhir-akhir ini mudah sakit.
Sepertinya membutuhkan sedikit bantuan untuk perjalanan jarak jauh. Kata Aldi,
lututku dibalut untuk membantunya kuat bergerak.
“Saya lelah sekali..,” ucapku pada Aldi yang
berada di belakangku.
“Ayo istirahat lagi, duduk dan luruskan
kakimu,” Aldi memberi perintah dan menyodorkan veldpless kepadaku.
“Masih jauh?,” tanyaku penasaran. Kuraih veldpless hijau dan meneguk air teh dingin yang
berada di dalamnya. Jalur yang kami lalui kali ini begitu berat. Jalur panjang
dihiasi dengan tekstur tanah yang menanjak lalu menurun, menanjak lagi lalu
landai kemudian menurun. Ya, beberapa pendaki mengakui inilah jalur yang paling
melelahkan.
“Sedikit lagi Pos 8 didepan,” Aldi mencoba
memberi harapan. Mataku kembali berbinar mendengar kata sedikit. Ah, di
pikiranku mungkin sedikit itu 15 menit lagi atau sedikit itu bisa 5 menit lagi.
Saya berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan walau dengan nafas yang tidak
lagi teratur dan jantung bekerja keras untuk memompa darah. Kabut mulai memeluk
kami dan kaki ini semakin berat untuk dilangkahkan.
***
Hari ini Gunung Bawakaraeng sedang ramai,
banyak tenda yang memenuhi lokasi camp di Pos 8 dan Pos 9. Ada pendaki yang
sudah berkemas, ada juga yang baru akan menuju puncak keesokan harinya. Rupanya
ada kegiatan Kartini Petualang hari ini. Pesertanya adalah sekumpulan pendaki
perempuan dan mereka berdandan seperti pahlawan nasional RA.Kartini di puncak
gunung. Mereka perempuan yang hebat, sayang kami tidak sempat bertemu dengan
mereka di puncak gunung.
 |
Sam in action! :)
Sumber air Pos 8 |
***
Edelweiss yang masih malu-malu bermekaran menjadi
hiasan indah di sepanjang jalur Pos 9 menuju Pos 10. Akhirnya aku bisa melihat
langsung bunga simbol keabadian ini, bunga yang begitu dipuja oleh para
pencinta alam. Bunga yang diharamkan untuk dipetik, namun masih ada saja jemari
jahil yang menarik mereka dari habitatnya. Tuhan, ciptaanmu memang begitu
indah.
Saat berjalan, tiba-tiba aku dan Aldi yang
sedang berjalan diguyur hujan. Mulanya gerimis, langkah kaki kami percepat.
Namun hujan makin deras. Pos 10 masih beberapa ratus meter di depan mata.
“Kita berteduh dulu,” seruku pada Aldi. Kami
hanya berteduh di bawah sebuah tumbuhan yang tidak begitu besar.
“Kita pakai ponco,” ujar Aldi.
“Ponco cuma satu. Kalau dipakai sendiri
kemungkinan menganggu gerakan kakiku berjalan, karena ponconya besar. Kamu saja
yang pakai,” kataku. “Pinjam slayermu saja, saya pakai di kepala.”
Aldi mengeluarkan slayer dari ring bagnya. Slayer itu cukup besar,
kuikatkan di kepalaku agar tidak basah karena hujan. Padahal hujan begitu
deras, sama saja membasahi kepalaku.
“Ponconya dipakai untuk lindungi carrier saja. Karena siapa tahu covernya tembus,” Aldi mengeluarkan
ponco dan melapisi carrier yang dia
bawa.
“Oke, kita lanjut jalan,” kulangkahkan kembali
kaki ini. Semakin lemah. Aldi berkata Pos 10 sudah tidak begitu jauh.
Seratus meter dari lokasi camp, hujan mulai
reda. Sebuah plang penanda yang terbuat dari selembar aluminium tipis bertuliskan
Pos 10 yang dipaku pada batang pohon. Di sana sudah ada Fajar dan Sam yang lebih
dahulu tiba. Baju yang ku kenakan ternyata sangat basah. Dinginnya memeluk
badan. Beruntung di Pos 10 ini angin tidak bertiup kencang seperti di Pos 5,
karena ada pohon-pohon yang cukup melindungi. Setelah tenda didirikan, Aldi
beranjak menuju puncak gunung untuk menikmati sunset. Ya, hujan sudah reda dan
siluet matahari kembali muncul.
 |
| Plang tanda Pos 10 |
 |
| Tranggulasi dan sunset |
***
Pukul 18.00 suasana camp kami begitu sepi.
Hanya ada tenda kami yang berdiri sendiri disana. Suara burung bersahutan untuk
terbang kembali ke sarangnya. Makan malam sudah tersaji. Sebenarnya ini bukanlah
makan malam karena kami memakannya saat waktu belum menunjukkan malam hari. Saya tidak berselera makan kali ini, hanya ingin segera berbaring di dalam tenda
karena lelah berjalan tadi. Namun lambungku riuh berbunyi karena sedari tadi
pagi belum terisi nasi. Saya dan Fajar juga mulai terserang masuk angin sedari
kemarin malam di Pos 5 hingga di Pos 10 ini. Beberapa sendok suapan nasi
berhasil masuk ke mulutku. Dan beberapa tegukan teh manis menambah isi
lambungku.
Malam mulai menggelayut, pekat ditemani sinar
bulan dan kerlipan bintang. Hawa dingin di camp ini tidak begitu menusuk
seperti di Pos 5 kemarin. Tenda kami benar-benar sendiri di camp ini. Tak ada
pendaki lain yang mendirikan tenda di sini. Hanya ada suara kami berempat
memecah keheningan camp ini.
“Ada camp pendaki lain di sebelah kanan sana,
sepertinya dua tenda. Pendaki yang kita temui kemarin di Pos 5. Saya bertemu
mereka tadi sore di puncak,” kata Aldi. Mataku langsung mencari arah camp yang
dimaksud Aldi, namun tidak terlihat. Banyak pohon dan rerimbunan tumbuhan. Camp
di sebelah kanan memang tidak terlihat dari camp kami.
“Kita tidak sendiri? Ah, pantas saja tadi samar
kedengaran suara orang lain. Pikirku darimana asalnya,” kataku.
“Iya Nita, kita kan camp di sebelah kiri.
Pikirku teman-temanku yang di Pos 5 kemarin akan camp bersama kita di sini,
tapi sepertinya mereka camp di bawah, di Pos 9,” tambah Aldi.
Saya, Fajar, dan Sam
memasuki tenda. Tinggalah Aldi sendiri di luar tenda, dia menikmati radiasi hangat
dari api unggun dan seduhan kopi hitam. Malam ini cerah seperti malam yang kami
lalui sebelumnya. Hawa dingin tidak begitu menusuk. Sesekali terdengar suara
plang tanda Pos 10 yang berbunyi tertiup angin. Mungkin sengaja dipaku agak
longgar ataukah sudah termakan usia sehingga pakunya mulai longgar. Suaranya terdengar
sedikit mistis menurutku. Di camp ini hanya 4 orang pendaki yang tidur di
sebuah tenda di suatu malam. Sepi.. Semua berharap agar segera tidur untuk
menyambut sunrise esok subuh di puncak Mulut Tuhan. Api unggun pun dipadamkan. Tak
ada suara lain.. Hanya itu..suara plang tanda Pos 10.