Kamis, 27 September 2012

Tridente Expedition Goes To 1.353 Mdpl (2-3 Juni 2012)

Saya sudah mengenal namanya sedari saya sadar hidup di dunia...
Namun saya tidak pernah tau dimana letak persisnya...
Hingga suatu hari saya ingin menemui “wujud” aslinya...
Sekedar ingin menyapa, dan berkata inilah “rumahku!”...


Siang itu.. 2 Juni 2012, saya, Ose, dan Odang berkemas-kemas untuk menanjak di ketinggian 1.353 mdpl.. Cuaca yang begitu terik tidak menyurutkan niat ini untuk menghirup kembali kabut pegunungan.

Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah Ose di daerah Mandai (Poros Makassar-Maros), menuju Desa Tompobulu, Kec.Balocci, Kab.Pangkep. Desa terakhir di kaki Gunung Bulusaraung.Menempuh perjalanan dengan sengatan matahari dan canda gurau sedikit melupakan kejenuhan saat kami menyusuri jalanan ini. Melewati jalan poros Maros-Pangkep, kami berbelok kanan menuju bekas pabrik semen Tonasa 1. Terruuusss......hingga mentok di sebuah tanda Kawasan Wisata Alam Bulusaraung, yah..Gunung ini masih termasuk Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kami beristirahat sejenak. Sebentar lagi kami akan berjalan menyusuri jalan menanjak dan kanan adalah hutan lebat, lalu di kiri tersembunyi jurang.
Berpose dulu, cuy! Hehehee..

Menyusuri jalan menanjak ini agak membuat saya deg-degan. Kemiringannya membuat jantung berdegup kencang. Namun, syukur kami berhasil melewati jalanan tanjakan dan berkelok itu. Dan kini terganti jalan datar yang paaanjaaannng dan berkelok di tengah hutan. Betul! Kami berjalan di tengah hutan! Bayangkan saja ada jalanan berbeton yang membelah hutan lebat ini! (sayang sekali, tidak sempat poto jalanannya).
Dua jam perjalanan kami tempuh dari Mandai menggunakan sepeda motor. Sampailah kami di Desa Tompubulu. Desa asri yang tersembunyi jauh di belahan hutan lebat. Kami istirahat sejenak dan menitipkan motor di rumah Tata Rasyid.

GO!! Pukul 14.30 kami beranjak. Menyusuri pematang sawah dan kebun kacang milik warga. Kami singgah sejenak di pancuran air dekat sawah untuk mengisi kekosongan perut. Pukul 15.00, setelah tenaga kembali penuh, kami akhirnya berangkat menyusuri hutan dan beberapa pos untuk mencapai lokasi camp di Pos 9.
Sepanjang perjalanan, saya dibuat takjub oleh tanjakan antara Pos 2-3-4..saya harus terus menanjak..dengan kemiringan yang lumayan membuat nafas serasa berada di ujung hembusan. Namun, sepanjang pos 1 sampai 5, terdapat sebuah shelter sederhana. Tetapi, shelternya tidak terawat, bahkan ada yang sudah rubuh.
Partner saya... \(^o^)/
ki-ka (Ose dan Odang)

Capeeekkk!!! Sumpaaahh...

Ini loh shelter yang rubuh!

Menuju Pos 5, jalanan mulai landai..betis ini sudah sesak nafas karena menyusuri tanjakan tadi. Hari sudah mulai gelap ketika kami mencapai Pos 8 yang biasa disebut Jendela Angin. Mengapa? Pos 8 adalah ruang terbuka yang berada di bibir jurang. Kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian beberapa ribu kaki. Anginnya bertiup kencang.  Wah, seandainya bisa paralayang disana. Hahahaha...Bersama pendaki lain yang kami temui di hutan, kami beristirahat sejenak di Pos 8 ini. Sudah pukul 17.00 dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 9 untuk camp.
Teman baarruuu.... :)

Ini yang memanjakan mata di Pos 8

Tiba di Pos 9 ini, terdapat sebuah areal camp yang cukup luas untuk menampung beberapa tenda pendaki. Seusai mendirikan tenda dan merapikan barang bawaan, kami segera mencari sumber mata air, yang.....aallaamaaakkk!! Jauh turun ke bawaaahh!! Letaknya masih berada di Pos 9, namun kita harus berjalan turun untuk mencapai mata air tersebut. Ya, baeklah...saya memerlukan air untuk membasuh wajah dan kaki yang sudah kotor berbalut tanah, keringat, dan debu.
Camp Pos 9

Magrib telah datang, saya segera menunaikan shalat Magrib. Inilah pengalaman pertama shalat di ketinggian, di alam terbuka, dingin, berteman suara binatang...damai sekali rasanya.
With Odang! :)
Bercelana pendek di malam hari, rasanya frreessshh!! hahahaa..

Seusai shalat Isya, kami makan malam dan dilanjutkan bermain domi, lalu ngopi bersama Adrian (teman saya yang akhirnya bertemu di camp ini lagi), dan Ose bercerita tentang pengalamannya saat mendaki Gunung Gandang Dewata pada tahun 2000 lalu. Kami semua tertawa terbahak mendengar cerita Ose. Lucu sekali! Mulai berganti mobil 41 kali PP Makassar-Mamuju, desa yang gelap gulita, babi berkeliaran, aliran sungai yang deras, kakek tua yang menyeramkan, peta dari koran, pemilihan kepala desa, hingga batu keramik sisa robohan tranggulasi asli Gandang Dewata yang membawa “berkah”.. J It’s gonna be awesome! Tepuk tangan buat Ose! Wakakakak.... Hingga kami mengantuk mendengarnya, cerita Ose layaknya sebuah dongeng..Hhe..

Ahad, 3 Juni..Pukul 07.00, BANGUUNN PAAGGII!!! Yyeeaahh!! Niat ngeliat sunrise di puncak 1.353 mdpl akhirnya PUPUS... -____- oke! Mari sarapan! Camp masih sepi.. sepertinya di camp, saya yang pertama keluar tenda, lalu mengeluarkan suara berisik untuk menyikat gigi..hingga teman di tenda lain terbangun. Segelas susu hangat dan roti tawar yang juga berlapis susu menjadi pengganjal lambung pagi ini.. J
Sarapann!! Horee!!


Assiik sekali Ose.. hha..

Pukul 07.15 kami bersiap untuk segera GO PUNCAK!! HOOREE!! SUMMIT ATTACK cuy!
Yassalaamm..ternyata buat muncak, saya harus menanjak lagi.. L doh! Keringat! Butuh waktu sekitar 15 menit untuk memegang tranggulasi 1.353 mdpl!
Hihihi...muka lelaahh!! Ayo, semangat! Dikit lagi puncak!

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ahad, 3 Juni 2012, pukul 07.30 Wita....AKHIRNYA! SUMMIT ATTACK!! Odang dengan antusias mendokumentasikan video detik-detik saat saya akan memegang tranggulasi! How Awesome! Odang hebat! HAHAHAHA....
Ehhemm....pose yang menurut beberapa teman, adalah pose paling menarik di petualangan kali ini.. :)
Padahal saya hanya sedang sibuk mencari sinyal untuk membalas beberapa SMS penting yg masuk ke hapeku..
Thankie Odang, sudah mengabadikan moment ini!

Senang, bangga (halaahh..), dan terharu (ngek!) bercampur kyk es teler.... Ibu! Liat! Saya berhasil naik di puncak gunung! Saya tidak cengeng! Walaupun, phobia ketinggian terkadang masih menghantui tapi semangat ini tidak pernah redup! Saya tau, saya lelah menanjak lalu menurun di dalam hutan, tetapi keindahan di puncak ini membalas semua rasa lelah..heheheee...
Sejauh mata memandang, hanya ada kedamaian! Wish you were here Mom! Saya tidak hanya tau tinggal di Jalan yang bernama Gunung Bulusaraung, tapi saya berhasil menemui "wujudnya", Bu! 

Walaupun hanya gunung “rendah”, tapi muncak di Bulusaraung adalah pengalaman pertama saya muncak di gunung. Awal yang mantap! :D Thankiee so muchaa buat Tridente Expedition...Ose dan Odang..kalian benarr benaarr partner yang hebat.. J Hihihiii.....
Partner terhebat...

Ada Adrian juga di puncak.. :)





see you soon Bulusaraung!



Selasa, 18 September 2012

Episode 3 Rammang-rammang with CouchSurfing Makassar


     Saya menghela nafas ketika seorang teman mengabarkan dia akan berwisata di Dusun Rammang-rammang pada esok Ahad 9 September 2012. Ffiiuuhh...kali ketiga menginjakkan kakiku di dusun itu. Yang episode pertama bersama Rimba (trekking tersesat..hahahaaa..), yang episode kedua bersama Odang, hanya sekedar mengambil gambar keindahan alam disana.
Tak ada kesibukan lain, saya mengiyakan untuk berangkat wisata bersama teman saya itu yang bernama Iyyan. Kami sepakat bertemu pukul 8.00. Dan oh..sy terlambat 15 menit dari jadwal itu.. heheheee... :p
      Pukul 8.30, kami segera GO Rammang-rammang. Ternyata, ini adalah semacam kegiatan touring bersama komunitas CouchSurfing Makassar (komunitas travelling gitu). WAW! Pesertanya 50-an orang! Saya sedikit kaget dengan jumlahnya, maklum saja selama outdoor, saya tidak pernah membawa “pasukan” sebanyak itu..paling banyak juga 6 orang.
      Di rombongan itu, terdapat 2 orang turis mancanegara yang entah saya tidak tau mereka berasal dari negeri mana? -____- Kami berbaur dengan latar belakang berbeda. Beruntung saya tidak susah bergaul dengan mereka.. J
        Kami menggunakan kendaraan pribadi menuju TKP. Pukul 10.00 kami tiba dan segera memulai trekking di sawah yang saaanggaaaatt kering!! 1 kata > TANDUS!
Panas mulai membakar kulit.. Di sana kami menyusuri hutan batu. Yah, baru pertama saya menyusuri “hutan” ini... bagus juga...CANTIK! Seperti berada di dalam hutan beneran, diapit batuan karst yang menjulang tinggi. Gua-gua kecil dan mata air juga menghiasi hutan ini. Sayang, bila bukan musim kemarau, hutan ini sulit dilalui. Dikarenakan berada di belakang sawah warga, dan bawahnya digenangi oleh air. Jadi, sebaiknya datang saat musim kemarau begini.
     SATU hal yang paaaliiinggg menjengkelkan adalah handphone saya yang tiba tiba HANG! OH..GOD... kameraa..manaa kameerraa..... NGGAK BAWA! -__- Okesip...ga ada banyak poto..ga cukup 5 kutip.
Di kawasan hutan tersebut, bila tak hapal jalur kita akan sedikit tersesat. Beruntung saat itu kami membawa guide yang merupakan anak seorang warga disana. Kami memanjat tebing, lalu menuruninya, menyusuri gua kecil, dan makan siang di “ballroom” Rammang-rammang! J
Wah, kegiatan touring yang seruu..namun sayang, hanya sebentar..pukul 13.00 kami sudah berlalu untuk tujuan selanjutnya > Taman Nasional Leang-leang.
Oke, Rammang-rammang! See you next time! With me and my partners!! :D

CouchSurfing Makassar Goes To Rammang-rammang

Rabu, 12 September 2012

#Mission Adventurous 1 > Episode 1 Rammang-rammang with Rimba


Berpetualang ke alam bebas untuk pertama kali adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tujuan kali ini adalah melihat gugusan hutan karst yang terletak di Dusun Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kab.Maros. Saya segera packing untuk menyiapkan keperluan selama di alam nanti. Saya akan bertualang berdua bersama partner baru saya yang bernama Rimba. Namun saya lebih akrab memanggilnya Kakak Guru, karena dia lebih berpengalaman berpetualang di alam bebas ketimbang saya.
29 Oktober 2011, pukul 10.00, kami start dari Makassar menggunakan kendaraan roda dua. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di dusun tersebut. Kami sempat bingung mencarinya. Karena hanya bermodal informasi melalui internet dan omongan teman-teman yang pernah kesana. Menurut informasi, hutan batu di kawasan Rammang-rammang sangat indah, namun ada jalur menyusuri sungai untuk sampai kesana.
Untuk mencari desa tersebut, di jalan poros Makassar-Maros kita berbelok menuju pabrik Semen Bosowa. Kami bertanya kepada warga sekitar bila ingin menyusuri sungai, “Harganya sekitar 150 ribu.”, kata seorang Ibu yang kami tanya. Harga yang mahal menurut kami, karena saat itu kami hanya pergi berdua. Jadi kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak mencapai kawasan hutan batu tersebut. Tak jauh dari jalan masuk menuju pabrik semen, di sebelah kiri tepatnya di samping Gardu Induk Maros, terdapat sebuah jalan kecil. Kami menyusuri jalan tersebut. Di kanan dan kiri terdapat hamparan sawah dan gugusan hutan karst yang begitu indah. Namun, langit tampak mendung.

Mari menyusuri Dusun Rammang-Rammang!! :D


Sudah pukul 12.00 dan kami masih meraba jalan. Lah, dimana sungainya???, pikirku heran. Kami menemui jalan buntu, di depan kami terhampar sawah dan memutuskan menitipkan motor di salah satu rumah warga. Hanya ada 4 rumah dan sebuah surau dalam satu kawasan tersebut. Dan tiap rumah berjarak ratusan kilometer.

Memandang sebuah surau...

Baru menjejakkan kaki beberapa langkah, kami sudah diguyur hujan. Segera kami berlindung di sebuah surau sambil menyusun rencana selanjutnya. Dan kami memutuskan untuk bertanya pada seorang warga yang rumahnya tak jauh dari tempat kami berpijak. Setelah hujan reda, matahari bersinar menyengat kulit, kami harus melewati pematang sawah untuk berjalan. Kami bertanya jalur pada tiap warga yang lewat, namun semua petunjuknya hanya membawa kami pada sebuah jalan dusun yang sepi, kami menyusuri jalan setapak selama 2 jam dengan diguyur hujan lalu kembali terik dan kami menyadari bahwa kami tersesat!
Segera kami berbalik kembali ke starting point. Saya mencoba menghubungi teman yang pernah ke hutan batu itu, namun sinyal seluler juga tak menjangkau seluruh wilayah desa itu. Rimba sibuk dengan kamera digitalnya. Dia memotret tiap moment yang kami lalui. Menurut teman yang berhasil saya hubungi, kami harus mencapai Gua Telapak Tangan. Ha? Gua dimana itu? Kami menyusun ulang rencana dengan berjalan menyusuri arah yang berlawanan. Kali ini saya benar-benar lelah, perut keroncongan dan kaki sudah pegal untuk melangkah. Namun semangat yang menggebu mengalahkan segala lelah. Jalur kali ini kami harus bermain lumpur. Untuk menyusuri pematang, terlalu jauh. Kami hanya berjalan memotong sawah warga yang tidak ditanami padi. Namun kondisinya sangat becek dan berlumpur. Langit kembali mendung dan kami berada di tengah sawah..yah, saya sedikit was-was menghadapi keadaan seperti ini, maklum saja ini adalah hal pertama dalam hidup saya. Dan kami memutuskan bertanya sekali lagi kepada warga yang sedang bekerja di samping rumahnya, “Pak, gua telapak tangan itu dimana?”, tanyaku penasaran. “Wah, masih arah sana Dek! Masih jauh!”, tutur seorang bapak sambil menunjuk ke arah sana sana saaanaaaa yg hanya terlihat sawah dan tebing karst. “Fiiiuuhh..”, hela nafasku terdengar. SAYA LELAAAHH..... -________-
Rimba memutuskan untuk mengakhiri petualangan kali ini. Kami mengucap terima kasih kepada warga tersebut dan segera mengambil sepeda motor yang terparkir. Belum seberapa jauh meninggalkan parkiran, hujan lalu kembali menyapa kami. Niat untuk berhenti sejenak memasak makan siang, menjadi tertunda. Kami beristirahat sejenak di depan sebuah warung kecil di mulut desa, melihat tiap tetesan bulir hujan yang menyapa bumi. Ah, Rammang-rammang...Kau masih membuat saya penasaran....... Janji, saya akan menyapamu kembali... Tunggu saja! :D
Ketika hujan reda, kami tak langsung kembali ke Makassar, tetapi kami ingin menikmati alam tebing Lopi-lopi! \(^o^)/ yeahh!! Kami akan makan siang dan istirahat di bawah tebingg!!
-bersambung....-

Selasa, 31 Juli 2012

Lembah Ramma 1819212

Delapan Belas Februari...
Sabtu itu, sekitar 2 jam menyusuri poros Makassar-Gowa, tibalah saya di sebuah desa di kaki Gunung Bawakaraeng, Kab.Gowa, tepat pukul 13.00 WITA. Namun, saya sempat kehilangan jejak Fajar dan Abel, yang mengambil jalur terdepan namun tak tahu arah menuju desa. Sinyal seluler sudah tidak mampu menjangkau langit desa ini. Beruntung 15 menit kemudian, Sam berhasil membawa kedua rekan kami yang tersesat kembali ke desa. Malam nanti, kami berencana akan menghabiskan saturday nite di Lembah Ramma, yang sesumbar menurut kawan-kawan penikmat alam adalah sebuah lembah cantik yang dipenuhi padang rumput dan sebuah sungai kecil yang tersembunyi di balik kokohnya kaki Gunung Bawakaraeng. Tim kami berjumlah enam orang. Empat orang laki-laki adalah teman kuliah saya dan seorang dari kami, Odang berbeda kampus.
Setelah beristirahat di salah satu rumah warga Desa Lembanna yang bernama Tata Supu, kami pamit untuk menuju tujuan sejati kami. Sudah pukul 14.00, satukan tekad! Kami berenam beriringan menyusuri kebun sayur warga desa hingga menembus deretan hutan pinus yang tertata rapi. Jalan cukup menanjak, saya, Abel dan Ignas merasa lelah. Sesekali kami beristirahat sekedar menikmati tetesan air dari botol air minum. Jalur menuju lembah ini sama dengan jalur pendakian menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Sesampai di POS 1, rasa haru menghampiri. Padahal kami baru mencapai starting point sebenarnya. Di lokasi ini terdapat percabangan menuju POS 2 Gunung Bawakaraeng dan menuju Lembah Ramma. Kami mengambil jalan kanan untuk menuju Lembah Ramma.
Menghirup nafas di POS 1
Kali ini Odang bertindak sebagai leader, diikuti oleh saya, Fajar, Abel, Ignas dan Sam sebagai sweeper. Berjalan beriringan menembus hutan dan sesekali kami mendapat percikan air dari langit. Kedinginan lalu kepanasan, bercampur di sore itu. Berenam kami tak luput dari gigitan binatang penghisap darah, pacet yaitu sejenis lintah namun berukuran lebih kecil. Tiap mendapat aliran air sungai kecil, kami beristirahat sejenak sekedar membersihkan bekas gigitan pacet yang menempel di tubuh kami. Lumayan, bekas gigitan pacet nampak berbekas di badan kami.
Dua jam setengah perjalanan menembus hutan yang membuat kami kelelahan, terbayar dengan tercapainya Puncak Tallung. Sebuah puncak yang merupakan salah satu titik punggungan Gunung Bawakaraeng. Terdapat sebuah batu besar, sebuah pohon cemara kecil dan in memoriam seorang pendaki yang wafat. Sayang, saat itu kabut menyelimuti hingga hanya samar terlihat indahnya Lembah Ramma di bawah sana.
Angin bertiup kencang, rembesan air dari langit turun kembali mengguyur badan kami. Saya melepas ponco yang digunakan daritadi. Ponco ini kebesaran dan sedikit akan mengganggu perjalanan bila dipakai. “Kita turun lewat sini.”, ujar Odang sambil mengarahkan menuju sebuah jalan curam. Wah, kami harus menuruni punggungan! Hujan turun dengan derasnya membuat kami berenam basah kuyup. Jalan curam dan licin, kedinginan, beban berat yang kami pikul, membuat kami lebih berhati-hati. Saya dan Odang menjadi yang terakhir menuruni punggungan itu. Namun, sesampai di bawah, ternyata kami berenam salah jalur! Area camp masih di sebelah kiri dengan jarak beberapa meter. Sedang yang di depan kami adalah kubangan lumpur. Segera kami mencari jalan pintas untuk mencapai area camp. Beruntung kami dengan cepat menemukan jalur. Lalu kami mendirikan tenda di lokasi camp. Ada pendaki lain yang sudah mendirikan tendanya. Hujan masih turun dengan derasnya. Kami mencapai Lembah Ramma sudah pukul 17.00.
Saya terduduk mengenakan ponco di sebuah gundukan bukit sebelah lokasi tenda. Kedinginan dan lapar membuat kaki saya sulit bergerak. Kelima rekan saya membantu mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, kami menghangatkan diri di dalam tenda. Hujan perlahan mulai reda. Secangkir kopi hangat dan roti bercampur meises menjadi teman di sore yang dingin itu. Langit bertransformasi menuju kegelapan malam.
Ketika malam tiba, Ignas segera memasak untuk keperluan makan malam kami. Sam dan Fajar membantu Ignas memasak. Menunya adalah nasi, mie kuah bercampur telur, dan telur rebus. Sesekali kami keluar tenda menikmati udara malam di alam bebas. Hujan telah berhenti, dan tergantikan oleh taburan bintang. “Yang kayak gini nggak ada di kota! Di kota cuma ada gedung tinggi!”, kataku sambil memandang takjub kilauan benda bercahaya di langit malam. Tetapi langit cerah tak bertahan lama, segera terganti oleh rintik hujan. Suara aliran air sungai menemani tidur kami di pukul 23.00 waktu Lembah Ramma.
Mejeng dalem tenda nunggu dinnerr!! \(^o^)/
Gemericik hujan yang sedari tengah malam tadi, masih menyambut hingga pagi ini. Saya menggeliat dari balik sleeping bag hitam. Langit sudah terang, sudah pukul 06.00. Kawan yang lain masih tertidur. Odang bergerak-gerak dari balik sleeping bagnya. Rupanya dia ikut terbangun. Saya sedikit bermalas-malasan, hujan lalu reda sejam kemudian. Saya beranjak keluar menuju sungai di samping tenda kami. Seketika saya takjub dengan apa yang saya lihat. Sebuah lembah cantik yang berumput hijau dan dialiri sebuah sungai berair jernih dikelilingi oleh Gunung Bawakaraeng. Eksotis sekali! Di Lembah Ramma ini terdapat sebuah rumah milik Tata Mandong, sang juru kunci Lembah Ramma. Beliau sudah lama mengabdikan diri menjaga kelestarian alam Bawakaraeng.
Camp di Lembah Ramma
Sarapan kami pagi ini adalah kopi, susu, dan beberapa bungkus cemilan. Target kembali menuju desa adalah pukul 12.00. Saya dan Odang sibuk memotret keadaan sekeliling, tak ingin melewatkan secuil pun keindahan lembah ini. Camp para pendaki lain berdiri di dekat tenda kami. Mendadak saya dan Odang menjadi model dan fotografer bermodal kamera ponsel. Ternyata, longsoran baru saja terjadi saat malam tadi. Bekasnya masih terlihat jelas. Pendaki lain menatap ke arah longsoran. Saya lalu melihat ke arah sebuah pohon kecil nun jauh di atas sana. “Itu Tallung!”, tunjukku ke arah satu titik  punggungan. Ternyata Puncak Tallung terlihat sangat jauh dari lembah ini. Bagaimana kaki kecil kami menapaki jalanan yang curam di tengah hujan yang begitu deras kemarin sore? Menakjubkan bagi seorang pemula seperti saya!
Motret depan tenda
Abel dan Fajar menikmati guyuran air sungai sebelum kami beranjak pulang. Yah, pukul 12.00 kami meninggalkan Lembah Ramma. Kaki kecil kami kembali menapaki jalan menuju Puncak Tallung. Lelah tersirat di wajah saya saat mencapai Puncak Tallung. Gembira menyelimuti. Kami mengabadikan gambar di tempat itu, lalu sejenak berdoa di sebuah in memoriam..
Ini puncak Talung!! (ki-ka: Sam, Odang, Nyta, Fajar, Ignas, Abel)
Perjalanan pulang menuju desa tidak terasa berat dibandingkan saat berangkat. Kami memerlukan waktu 2 jam untuk kembali ke rumah Tata Supu. Rasa lelah tergurat di wajah kami, namun tersamarkan senyuman bahagia kami. Yah..kami berhasil mencapai Lembah Ramma. Kami adalah partner bertualang. Dan suatu saat kami akan kembali menyapa Lembah Ramma! Aamiin! Di atas motor, saya membalikkan badan, melihat pelangi di langit Lembanna, lalu tersenyum. See you soon Lembanna!
Pelangi Lembanna