Saya sudah mengenal namanya sedari saya sadar hidup di dunia...
Namun saya tidak pernah tau dimana letak persisnya...
Hingga suatu hari saya ingin menemui “wujud” aslinya...
Sekedar ingin menyapa, dan berkata inilah “rumahku!”...
Siang
itu.. 2 Juni 2012, saya, Ose, dan Odang berkemas-kemas untuk menanjak di
ketinggian 1.353 mdpl.. Cuaca yang begitu terik tidak menyurutkan niat ini
untuk menghirup kembali kabut pegunungan.
Pukul
12.00 kami berangkat dari rumah Ose di daerah Mandai (Poros Makassar-Maros), menuju Desa Tompobulu, Kec.Balocci,
Kab.Pangkep. Desa terakhir di kaki Gunung Bulusaraung.Menempuh
perjalanan dengan sengatan matahari dan canda gurau sedikit melupakan kejenuhan
saat kami menyusuri jalanan ini. Melewati jalan poros Maros-Pangkep, kami
berbelok kanan menuju bekas pabrik semen Tonasa 1. Terruuusss......hingga
mentok di sebuah tanda Kawasan Wisata Alam Bulusaraung, yah..Gunung ini masih termasuk Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kami
beristirahat sejenak. Sebentar lagi kami akan berjalan menyusuri jalan menanjak
dan kanan adalah hutan lebat, lalu di kiri tersembunyi jurang.
![]() |
| Berpose dulu, cuy! Hehehee.. |
Menyusuri
jalan menanjak ini agak membuat saya deg-degan. Kemiringannya membuat jantung
berdegup kencang. Namun, syukur kami berhasil melewati jalanan tanjakan dan
berkelok itu. Dan kini terganti jalan datar yang paaanjaaannng dan berkelok di
tengah hutan. Betul! Kami berjalan di tengah hutan! Bayangkan saja ada jalanan
berbeton yang membelah hutan lebat ini! (sayang sekali, tidak sempat poto
jalanannya).
Dua
jam perjalanan kami tempuh dari Mandai menggunakan sepeda motor. Sampailah kami
di Desa Tompubulu. Desa asri yang tersembunyi jauh di belahan hutan lebat. Kami
istirahat sejenak dan menitipkan motor di rumah Tata Rasyid.
GO!!
Pukul 14.30 kami beranjak. Menyusuri pematang sawah dan kebun kacang milik
warga. Kami singgah sejenak di pancuran air dekat sawah untuk mengisi
kekosongan perut. Pukul 15.00, setelah tenaga kembali penuh, kami akhirnya
berangkat menyusuri hutan dan beberapa pos untuk mencapai lokasi camp di Pos 9.
Sepanjang
perjalanan, saya dibuat takjub oleh tanjakan antara Pos 2-3-4..saya harus terus menanjak..dengan kemiringan yang lumayan membuat nafas serasa
berada di ujung hembusan. Namun, sepanjang pos 1 sampai 5, terdapat sebuah
shelter sederhana. Tetapi, shelternya tidak terawat, bahkan ada yang sudah
rubuh.
![]() |
| Partner saya... \(^o^)/ ki-ka (Ose dan Odang) |
![]() |
| Capeeekkk!!! Sumpaaahh... |
![]() |
| Ini loh shelter yang rubuh! |
Menuju
Pos 5, jalanan mulai landai..betis ini sudah sesak nafas karena menyusuri
tanjakan tadi. Hari sudah mulai gelap ketika kami mencapai Pos 8 yang biasa
disebut Jendela Angin. Mengapa? Pos 8 adalah ruang terbuka yang berada di bibir jurang. Kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian beberapa
ribu kaki. Anginnya bertiup kencang. Wah, seandainya bisa paralayang disana. Hahahaha...Bersama pendaki lain yang kami temui di
hutan, kami beristirahat sejenak di Pos 8 ini. Sudah pukul 17.00 dan kami
segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 9 untuk camp.
![]() |
| Teman baarruuu.... :) |
![]() |
| Ini yang memanjakan mata di Pos 8 |
Tiba di
Pos 9 ini, terdapat sebuah areal camp yang cukup luas untuk menampung beberapa tenda
pendaki. Seusai mendirikan tenda dan merapikan barang bawaan, kami segera
mencari sumber mata air, yang.....aallaamaaakkk!! Jauh turun ke bawaaahh!! Letaknya masih berada di Pos 9, namun
kita harus berjalan turun untuk mencapai mata air tersebut. Ya, baeklah...saya
memerlukan air untuk membasuh wajah dan kaki yang sudah kotor berbalut tanah,
keringat, dan debu.
![]() |
| Camp Pos 9 |
Magrib
telah datang, saya segera menunaikan shalat Magrib. Inilah pengalaman pertama
shalat di ketinggian, di alam terbuka, dingin, berteman suara binatang...damai
sekali rasanya.
| With Odang! :) Bercelana pendek di malam hari, rasanya frreessshh!! hahahaa.. |
Seusai shalat Isya, kami makan malam dan dilanjutkan bermain
domi, lalu ngopi bersama Adrian (teman saya yang akhirnya bertemu di camp ini
lagi), dan Ose bercerita tentang pengalamannya saat mendaki Gunung Gandang
Dewata pada tahun 2000 lalu. Kami semua tertawa terbahak mendengar cerita Ose.
Lucu sekali! Mulai berganti mobil 41 kali PP Makassar-Mamuju, desa yang gelap
gulita, babi berkeliaran, aliran sungai yang deras, kakek tua yang menyeramkan,
peta dari koran, pemilihan kepala desa, hingga batu keramik sisa robohan
tranggulasi asli Gandang Dewata yang membawa “berkah”.. J It’s gonna be awesome! Tepuk tangan
buat Ose! Wakakakak.... Hingga kami mengantuk mendengarnya, cerita Ose layaknya
sebuah dongeng..Hhe..
Ahad,
3 Juni..Pukul 07.00, BANGUUNN PAAGGII!!! Yyeeaahh!! Niat ngeliat sunrise di
puncak 1.353 mdpl akhirnya PUPUS... -____- oke! Mari sarapan! Camp masih sepi..
sepertinya di camp, saya yang pertama keluar tenda, lalu mengeluarkan suara berisik untuk menyikat
gigi..hingga teman di tenda lain terbangun. Segelas susu hangat dan roti tawar
yang juga berlapis susu menjadi pengganjal lambung pagi ini.. J
| Sarapann!! Horee!! |
![]() |
| Assiik sekali Ose.. hha.. |
Pukul
07.15 kami bersiap untuk segera GO PUNCAK!! HOOREE!! SUMMIT ATTACK cuy!
Yassalaamm..ternyata
buat muncak, saya harus menanjak lagi.. L doh! Keringat! Butuh waktu sekitar 15
menit untuk memegang tranggulasi 1.353 mdpl!
![]() |
| Hihihi...muka lelaahh!! Ayo, semangat! Dikit lagi puncak! |
| Bismillahirrahmanirrahiim.. |
Ahad, 3 Juni 2012, pukul
07.30 Wita....AKHIRNYA! SUMMIT ATTACK!! Odang dengan antusias mendokumentasikan video
detik-detik saat saya akan memegang tranggulasi! How Awesome! Odang hebat!
HAHAHAHA....
Senang, bangga (halaahh..), dan terharu (ngek!) bercampur kyk es teler.... Ibu!
Liat! Saya berhasil naik di puncak gunung! Saya tidak cengeng! Walaupun, phobia
ketinggian terkadang masih menghantui tapi semangat ini tidak pernah redup! Saya tau, saya lelah menanjak lalu menurun di dalam hutan, tetapi keindahan di puncak ini membalas semua rasa lelah..heheheee...
Sejauh mata memandang, hanya ada kedamaian! Wish you were here Mom! Saya tidak hanya tau tinggal di Jalan yang bernama Gunung Bulusaraung, tapi saya berhasil menemui "wujudnya", Bu! J
Sejauh mata memandang, hanya ada kedamaian! Wish you were here Mom! Saya tidak hanya tau tinggal di Jalan yang bernama Gunung Bulusaraung, tapi saya berhasil menemui "wujudnya", Bu! J
Walaupun
hanya gunung “rendah”, tapi muncak di Bulusaraung adalah pengalaman pertama
saya muncak di gunung. Awal yang mantap! :D Thankiee so muchaa buat Tridente
Expedition...Ose dan Odang..kalian benarr benaarr partner yang hebat.. J Hihihiii.....
![]() |
| Partner terhebat... |
Ada Adrian juga di puncak.. :)see you soon Bulusaraung! |












.jpg)



.jpg)