Sabtu itu, sekitar 2 jam
menyusuri poros Makassar-Gowa, tibalah saya di sebuah desa di kaki Gunung Bawakaraeng,
Kab.Gowa, tepat pukul 13.00 WITA. Namun, saya sempat kehilangan jejak Fajar dan
Abel, yang mengambil jalur terdepan namun tak tahu arah menuju desa. Sinyal
seluler sudah tidak mampu menjangkau langit desa ini. Beruntung 15 menit
kemudian, Sam berhasil membawa kedua rekan kami yang tersesat kembali ke desa.
Malam nanti, kami berencana akan menghabiskan saturday nite di Lembah Ramma, yang sesumbar menurut kawan-kawan
penikmat alam adalah sebuah lembah cantik yang dipenuhi padang rumput dan
sebuah sungai kecil yang tersembunyi di balik kokohnya kaki Gunung Bawakaraeng.
Tim kami berjumlah enam orang. Empat orang laki-laki adalah teman kuliah saya
dan seorang dari kami, Odang berbeda kampus.
Setelah beristirahat di salah
satu rumah warga Desa Lembanna yang bernama Tata Supu, kami pamit untuk menuju
tujuan sejati kami. Sudah pukul 14.00, satukan tekad! Kami berenam beriringan
menyusuri kebun sayur warga desa hingga menembus deretan hutan pinus yang
tertata rapi. Jalan cukup menanjak, saya, Abel dan Ignas merasa lelah. Sesekali
kami beristirahat sekedar menikmati tetesan air dari botol air minum. Jalur menuju
lembah ini sama dengan jalur pendakian menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Sesampai
di POS 1, rasa haru menghampiri. Padahal kami baru mencapai starting point
sebenarnya. Di lokasi ini terdapat percabangan menuju POS 2 Gunung Bawakaraeng
dan menuju Lembah Ramma. Kami mengambil jalan kanan untuk menuju Lembah Ramma.
![]() |
| Menghirup nafas di POS 1 |
Kali ini Odang bertindak sebagai
leader, diikuti oleh saya, Fajar, Abel, Ignas dan Sam sebagai sweeper. Berjalan
beriringan menembus hutan dan sesekali kami mendapat percikan air dari langit.
Kedinginan lalu kepanasan, bercampur di sore itu. Berenam kami tak luput dari
gigitan binatang penghisap darah, pacet yaitu sejenis lintah namun berukuran
lebih kecil. Tiap mendapat aliran air sungai kecil, kami beristirahat sejenak
sekedar membersihkan bekas gigitan pacet yang menempel di tubuh kami. Lumayan,
bekas gigitan pacet nampak berbekas di badan kami.
Dua jam setengah perjalanan
menembus hutan yang membuat kami kelelahan, terbayar dengan tercapainya Puncak
Tallung. Sebuah puncak yang merupakan salah satu titik punggungan Gunung Bawakaraeng.
Terdapat sebuah batu besar, sebuah pohon cemara kecil dan in memoriam
seorang pendaki yang wafat. Sayang, saat itu kabut menyelimuti hingga hanya
samar terlihat indahnya Lembah Ramma di bawah sana.
Angin bertiup kencang, rembesan
air dari langit turun kembali mengguyur badan kami. Saya melepas ponco yang
digunakan daritadi. Ponco ini kebesaran dan sedikit akan mengganggu perjalanan
bila dipakai. “Kita turun lewat sini.”, ujar Odang sambil mengarahkan menuju
sebuah jalan curam. Wah, kami harus menuruni punggungan! Hujan turun dengan
derasnya membuat kami berenam basah kuyup. Jalan curam dan licin, kedinginan,
beban berat yang kami pikul, membuat kami lebih berhati-hati. Saya dan Odang
menjadi yang terakhir menuruni punggungan itu. Namun, sesampai di bawah,
ternyata kami berenam salah jalur! Area camp masih di sebelah kiri dengan jarak
beberapa meter. Sedang yang di depan kami adalah kubangan lumpur. Segera kami
mencari jalan pintas untuk mencapai area camp. Beruntung kami dengan cepat
menemukan jalur. Lalu kami mendirikan tenda di lokasi camp. Ada pendaki lain
yang sudah mendirikan tendanya. Hujan masih turun dengan derasnya. Kami
mencapai Lembah Ramma sudah pukul 17.00.
Saya terduduk mengenakan ponco di
sebuah gundukan bukit sebelah lokasi tenda. Kedinginan dan lapar membuat kaki
saya sulit bergerak. Kelima rekan saya membantu mendirikan tenda. Setelah tenda
berdiri, kami menghangatkan diri di dalam tenda. Hujan perlahan mulai reda.
Secangkir kopi hangat dan roti bercampur meises menjadi teman di sore yang
dingin itu. Langit bertransformasi menuju kegelapan malam.
Ketika malam tiba, Ignas segera
memasak untuk keperluan makan malam kami. Sam dan Fajar membantu Ignas memasak.
Menunya adalah nasi, mie kuah bercampur telur, dan telur rebus. Sesekali kami
keluar tenda menikmati udara malam di alam bebas. Hujan telah berhenti, dan
tergantikan oleh taburan bintang. “Yang kayak gini nggak ada di kota! Di kota cuma
ada gedung tinggi!”, kataku sambil memandang takjub kilauan benda bercahaya di
langit malam. Tetapi langit cerah tak bertahan lama, segera terganti oleh
rintik hujan. Suara aliran air sungai menemani tidur kami di pukul 23.00 waktu
Lembah Ramma.
| Mejeng dalem tenda nunggu dinnerr!! \(^o^)/ |
Gemericik hujan yang sedari
tengah malam tadi, masih menyambut hingga pagi ini. Saya menggeliat dari balik
sleeping bag hitam. Langit sudah terang, sudah pukul 06.00. Kawan yang lain
masih tertidur. Odang bergerak-gerak dari balik sleeping bagnya. Rupanya dia
ikut terbangun. Saya sedikit bermalas-malasan, hujan lalu reda sejam kemudian.
Saya beranjak keluar menuju sungai di samping tenda kami. Seketika saya takjub
dengan apa yang saya lihat. Sebuah lembah cantik yang berumput hijau dan
dialiri sebuah sungai berair jernih dikelilingi oleh Gunung Bawakaraeng.
Eksotis sekali! Di Lembah Ramma ini terdapat sebuah rumah milik Tata Mandong,
sang juru kunci Lembah Ramma. Beliau sudah lama mengabdikan diri menjaga
kelestarian alam Bawakaraeng.
| Camp di Lembah Ramma |
Sarapan kami pagi ini adalah
kopi, susu, dan beberapa bungkus cemilan. Target kembali menuju desa adalah
pukul 12.00. Saya dan Odang sibuk memotret keadaan sekeliling, tak ingin
melewatkan secuil pun keindahan lembah ini. Camp para pendaki lain berdiri di
dekat tenda kami. Mendadak saya dan Odang menjadi model dan fotografer bermodal
kamera ponsel. Ternyata, longsoran baru saja terjadi saat malam tadi. Bekasnya
masih terlihat jelas. Pendaki lain menatap ke arah longsoran. Saya lalu melihat
ke arah sebuah pohon kecil nun jauh di atas sana. “Itu Tallung!”, tunjukku ke
arah satu titik punggungan. Ternyata
Puncak Tallung terlihat sangat jauh dari lembah ini. Bagaimana kaki kecil kami
menapaki jalanan yang curam di tengah hujan yang begitu deras kemarin sore?
Menakjubkan bagi seorang pemula seperti saya!
| Motret depan tenda |
Abel dan Fajar menikmati guyuran
air sungai sebelum kami beranjak pulang. Yah, pukul 12.00 kami meninggalkan
Lembah Ramma. Kaki kecil kami kembali menapaki jalan menuju Puncak Tallung.
Lelah tersirat di wajah saya saat mencapai Puncak Tallung. Gembira menyelimuti.
Kami mengabadikan gambar di tempat itu, lalu sejenak berdoa di sebuah in memoriam..
![]() |
| Ini puncak Talung!! (ki-ka: Sam, Odang, Nyta, Fajar, Ignas, Abel) |
Perjalanan pulang menuju desa
tidak terasa berat dibandingkan saat berangkat. Kami memerlukan waktu 2 jam
untuk kembali ke rumah Tata Supu. Rasa lelah tergurat di wajah kami, namun
tersamarkan senyuman bahagia kami. Yah..kami berhasil mencapai Lembah Ramma.
Kami adalah partner bertualang. Dan suatu saat kami akan kembali menyapa Lembah
Ramma! Aamiin! Di atas motor, saya membalikkan badan, melihat pelangi di langit
Lembanna, lalu tersenyum. See you soon Lembanna!
![]() |
| Pelangi Lembanna |


.jpg)